
Sewaktu beberapa merek mobil ternama di Indonesia mulai mengeluarkan model-model mobil terbarunya yang berpenggerak roda depan (Front Wheel Drive – FWD), langsung muncul suara-suara kekhawatiran dari konsumen.
Konsumen khawatir, sistem FWD akan membuat kaki-kaki mobil cepat rusak. Beda kondisinya dengan mobil berpenggerak roda belakang (RWD). Apakah anggapan itu betul?
Sayangnya kekhawatiran itu ada benarnya. Karena faktanya, sistem penggerak FWD memang sering bikin komponen kaki-kaki tidak awet alias gampang rusak.
Awalnya mungkin cuma muncul bunyi-bunyian khas pada saat mobil bermanuver atau lewat jalan tidak rata.
Tetapi lama-kelamaan bunyi-bunyi aneh semakin banyak dan sering. Terutama kalau melintas di jalan tidak rata, bergelombang, saat suspensi naik-turun, atau saat melaju kencang.
Mengapa penggerak roda depan membuat komponen kaki-kaki cepat “kalah”? Nah, biar tidak menebak-nebak, mari kita bahas sekilas tetapi jelas.

Sumber: Mobil123.com
Dibandingkan RWD, sistem FWD membuat roda depan menanggung beban lebih besar atau beban ganda.
Penjelasannya, roda depan bertugas menyalurkan tenaga mesin atau diistilahkan traksi, tetapi pada saat bersamaan juga mengarahkan laju kendaraan atau fungsi kemudi.
Beda dengan RWD, di mana pekerjaan itu terpisah. Roda depan urusannya cuma kemudi saja. Roda belakang biar fokus menyalurkan tenaga.

Bagi Otofriends pemakai mobil FWD pasti paham, mobil yang dipakainya akan dirasa lebih berat di bagian depan. Apalagi kalau mobil sedang berjalan, tanpa membawa banyak penumpang atau beban.
Kondisi ini disebabkan karena mesin, transmisi, dan sistem penggerak, semua ngumpul di bagian depan.
Bobot di depan yang terasa lebih berat ini memberikan tekanan konstan konstan pada komponen suspensi. Kita bisa merasakannya ketika mobil melewati polisi tidur atau jalan tidak rata.
Pada bagian kaki-kaki, tepatnya di kiri dan kanan, ada dua komponen vital yakni CV Joint dan as roda (Drive Shaft). Keduanya bertugas menyalurkan tenaga dari transmisi langsung ke roda pemutar.
Masalahnya, karet CV joint atau disebut CV joint boot bisa robek karena kombinasi usia pemakaian, paparan panas tinggi, dan tekanan mekanis yang berat di area roda depan.
Rusaknya CV Joint Boot jadi problem paling umum dari FWD dan bisa menyebabkan bunyi-bunyian aneh saat mobil berbelok.

Sumber: Sindonews
Saat mobil berjalan atau bermanuver, ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat tekanan besar pada komponen kaki-kaki mobil FWD hingga akhirnya mengakibatkan kerusakan.
Contoh, saat mobil berakselerasi di tikungan, roda depan menerima torsi dan gaya lateral secara bersamaan. Akibatnya CV Joint cepat rusak karena tekanan maksimal. Karet bushing juga cepat sobek dan engsel ball joint cepat oblak.
Begitu pula saat pengereman mendadak atau pengereman saat berbelok. Kondisi semacam ini akan merusak komponen bushing, ball joint, dan link stabilizer.

Di area kaki-kaki mobil FWD, paling tidak ada 10 komponen yang bekerja dan saling mendukung. Nah, di antara komponen-komponen itu, ternyata ada empat komponan yang paling sering bermasalah, yaitu:
Gejalanya, muncul bunyi saat berbelok sambil berakselerasi. Bisa juga terlihat dari cipratan grease hitam di velg atau kolong rodal
Penyebab kerusakan biasanya karena panas, usia pakai, gerakan ekstrem.
Jangan dibiarkan! Karena kerusakan bisa merembet sampai ke outer CV joint yang aus akibat menumpuknya kotoran.
Gejalanya, muncul bunyi dari bawah saat melewati jalan rusak atau jalan berbatu.
Biasanya disebabkan ball joint kecil pada link stabilizer terus-terusan menahan ayunan bodi dan benturan jalan.
Rusaknya karet ball joint link stabilizer menyebabkan engsel di dalamnya aus.
Kalau rusak, gejalanya muncul bunyi “gluduk-gluduk” saat lewat polisi tidur atau lubang. Setir juga terasa melayang saat mobil ngebut.
Biasanya disebabkan tumpukan beban pengereman dan akselerasi. Karet dipaksa menahan dorongan bodi ke depan saat pengereman atau dorongan akselerasi dari roda depan.
Karet juga bisa rusak karena penuaan. Akhirnya pecah-pecah dan robek dari selongsong besinya.
Gejalanya, setir terasa oblak, ngebuang, atau susah lurus. Muncul juga ketukan saat setir digoyang-goyang saat posisi diam.
Biasanya disebabkan jalan rusak yang menghantam dan diterima oleh batang tie rod.
Penyebab lain, bisa karena sering memutar setir saat mobil diam atau berhenti total. Akibatnya terjadi beban gesek pada ball joint tie rod.

Sumber: Kompas.com
Nah, kalau Otofriends ingin memeriksa kondisi mobil bekas, terutama kaki-kakinya, percayakan saja inspeksinya pada jasa inspeksi mobil bekas Otospector.
Setelah mobil dibeli, bakal semakin oke kalau dilengkapi juga dengan garansi mobil bekas Otospector. Segala kerusakan mesin dan transmisi bakal ditanggung perbaikannya.
Bagikan
