
Mobil listrik semakin mudah ditemukan di jalanan Indonesia. Pilihannya pun sudah jauh lebih banyak dibanding beberapa tahun lalu, mulai dari city car, hatchback, SUV, MPV, sampai sedan listrik.
Meski begitu, masih ada calon konsumen yang memilih bertahan dengan mobil bensin. Alasannya bukan selalu karena tidak tertarik dengan teknologi baru. Sebagian justru masih memiliki sejumlah kekhawatiran sebelum benar-benar memutuskan membeli.
Survei Populix yang dilakukan pada 15-25 Maret 2024 terhadap 350 pemilik kendaraan listrik di Indonesia menemukan sejumlah kekhawatiran ketika menggunakan EV. Di antaranya adalah sisa baterai saat perjalanan, jarak tempuh, keterbatasan fasilitas charging, harga, sampai ketersediaan bengkel.
Lantas, apa saja yang sebenarnya membuat orang masih ragu membeli mobil listrik?

Salah satu kekhawatiran paling masuk akal adalah baterai habis sebelum sampai tujuan.
Berbeda dengan mobil bensin yang relatif mudah mencari SPBU, pengisian mobil listrik membutuhkan stasiun pengisian yang sesuai dan waktu tertentu.
Kekhawatiran ini sering disebut sebagai range anxiety, yaitu rasa khawatir kendaraan tidak memiliki cukup energi untuk mencapai tujuan atau lokasi charging berikutnya.
Perlu dipahami, masalahnya bukan semata-mata mobil listrik tidak memiliki jarak tempuh yang cukup.
Yang lebih penting adalah bagaimana pemilik menghitung kebutuhan perjalanan.
Untuk penggunaan harian seperti pergi bekerja, mengantar anak, belanja atau aktivitas dalam kota, jarak tempuh mobil listrik modern pada umumnya sudah cukup untuk kebutuhan tersebut.
Masalah biasanya muncul ketika mobil digunakan untuk perjalanan jauh tanpa perencanaan charging.
Karena itu, pemilik EV perlu terbiasa melihat rute, lokasi SPKLU dan estimasi konsumsi energi sebelum melakukan perjalanan jauh.


Charging menjadi perbedaan terbesar antara mobil listrik dan mobil bensin.
Pemilik mobil bensin tinggal datang ke SPBU, mengisi bahan bakar dan melanjutkan perjalanan. Sementara pemilik EV harus memikirkan di mana mobil akan diisi daya.
Namun, infrastruktur charging terus berkembang.
Menurut IEA, sebagian besar pemilik mobil listrik secara global mengandalkan pengisian daya di rumah karena lebih praktis dan biasanya lebih murah. Pada 2025, jumlah titik charging privat untuk kendaraan ringan secara global diperkirakan sudah lebih dari 43 juta titik.
Bagi Otofriends yang memiliki rumah dengan area parkir sendiri, charging di rumah bisa mengurangi ketergantungan terhadap SPKLU.
Mobil bisa diisi saat malam ketika kendaraan tidak digunakan. Jadi, pada pagi hari baterai sudah kembali terisi untuk digunakan beraktivitas.
Persoalannya tentu berbeda bagi mereka yang tinggal di apartemen, kos, rumah tanpa carport, atau tempat tinggal yang tidak memungkinkan pemasangan perangkat charging.
Inilah salah satu hal yang sebaiknya dipastikan sebelum membeli.

Harga menjadi kekhawatiran berikutnya.
Walaupun harga mobil listrik semakin kompetitif, sebagian model masih memiliki harga pembelian awal lebih tinggi dibanding mobil bensin dengan ukuran atau kelas yang sama.
IEA mencatat harga pembelian awal masih menjadi salah satu hambatan utama adopsi mobil listrik secara global. Di Indonesia, rata-rata premi harga mobil listrik terhadap mobil bermesin pembakaran internal memang turun dari sekitar 55 persen pada 2024 menjadi sekitar 40 persen pada 2025.
Artinya, kondisi pasar terus berubah dan harga EV semakin kompetitif, tetapi perbedaan harga awal masih menjadi pertimbangan bagi sebagian konsumen.
Otofriends juga perlu menghitung total cost of ownership atau biaya kepemilikan.
Mobil listrik biasanya memiliki kebutuhan perawatan rutin yang berbeda dan biaya energi yang bisa lebih rendah, terutama jika mayoritas charging dilakukan di rumah.
Namun, biaya instalasi charging, asuransi, ban, perawatan, serta depresiasi kendaraan juga tetap perlu diperhitungkan.
Jadi, jangan langsung menyimpulkan mobil listrik pasti lebih murah hanya karena tidak perlu membeli bensin.


Kalau mesin merupakan komponen utama mobil bensin, baterai menjadi salah satu komponen paling penting pada mobil listrik.
Karena harganya bernilai tinggi, tidak sedikit calon pembeli yang langsung membayangkan biaya besar jika baterai mengalami kerusakan.
Kekhawatiran mengenai kondisi baterai bahkan masuk dalam daftar kekhawatiran konsumen yang ditemukan Populix, termasuk soal baterai bengkak atau bocor dan anggapan bahwa baterai sering harus diganti.
Baterai memang mengalami degradasi seiring waktu. Namun, degradasi tidak sama dengan baterai tiba-tiba rusak total.
Kapasitas baterai dapat berkurang secara bertahap akibat usia, siklus penggunaan, temperatur dan pola pengisian.
Karena itu, calon pembeli sebaiknya melihat garansi baterai dari masing-masing merek, termasuk durasi, batas kilometer dan persyaratan klaim.
Hal ini menjadi semakin penting jika Otofriends berencana membeli mobil listrik bekas.

Kekhawatiran lain adalah jaringan servis.
Mobil bensin sudah memiliki ekosistem bengkel yang sangat luas. Hampir di setiap daerah mudah ditemukan bengkel yang menangani mesin, transmisi, rem, kaki-kaki dan kelistrikan.
Sementara itu, teknologi EV relatif lebih baru.
Survei Populix yang dikutip GAIKINDO juga mencatat kekhawatiran bahwa tidak semua bengkel menerima perbaikan kendaraan listrik, bahkan untuk kerusakan yang tidak berhubungan langsung dengan sistem kelistrikan.
Jangan hanya bertanya mengenai harga mobil.
Tanyakan juga lokasi bengkel resmi, ketersediaan teknisi, ketersediaan suku cadang dan bagaimana prosedur jika mobil mengalami masalah ketika berada di luar kota.
Bagi Otofriends yang sering bepergian antarkota, informasi seperti ini jauh lebih penting dibanding sekadar melihat fitur hiburan di kabin.

Ini menjadi kekhawatiran yang semakin relevan karena teknologi mobil listrik berkembang sangat cepat.
Model baru bisa hadir dengan baterai lebih besar, jarak tempuh lebih jauh, fitur lebih lengkap dan harga yang semakin kompetitif.
Akibatnya, mobil listrik generasi sebelumnya berpotensi menghadapi tekanan harga di pasar mobil bekas.
IEA mencatat nilai jual kembali EV memang menjadi perhatian di sejumlah pasar. Di Eropa, misalnya, tingkat retensi nilai BEV turun dari sekitar 50 persen pada 2022 menjadi 35 persen pada 2025. Di China, perkembangan teknologi dan hadirnya model baru juga ikut menekan nilai jual kembali mobil listrik lama.
Namun, kondisi setiap negara dan model berbeda. Data tersebut tidak bisa langsung dijadikan patokan untuk semua mobil listrik di Indonesia.
Kalau Otofriends berniat menjual mobil dalam beberapa tahun, perhatikan reputasi merek, jaringan servis, ketersediaan suku cadang, garansi baterai dan perkembangan pasar mobil bekas.
Semakin jelas ekosistemnya, semakin mudah calon pembeli berikutnya memahami kondisi kendaraan tersebut.

Pengisian daya memang tidak selalu secepat mengisi bensin.
Waktu charging tergantung kapasitas baterai, daya charger, kondisi baterai dan kemampuan kendaraan menerima daya.
Untuk pemakaian sehari-hari, charging di rumah pada malam hari bisa membuat waktu tersebut terasa tidak terlalu mengganggu.
Masalahnya muncul ketika sedang perjalanan jauh dan membutuhkan pengisian cepat.
Otofriends tidak harus selalu mencari fast charging.
Untuk penggunaan rutin, charging di rumah biasanya lebih praktis. IEA juga mencatat charging privat menjadi metode yang paling banyak digunakan pemilik EV secara global.
Fast charging lebih berguna ketika sedang perjalanan dan membutuhkan tambahan energi dalam waktu relatif singkat.
Kekhawatiran terakhir adalah perkembangan teknologi.
Mobil listrik berkembang cukup cepat. Fitur, software, kapasitas baterai, sistem bantuan pengemudi dan teknologi charging terus mengalami perubahan.
Calon pembeli kemudian bisa berpikir, “Kalau beli sekarang, jangan-jangan tahun depan sudah ada yang jauh lebih bagus.”
Kekhawatiran ini sebenarnya bukan hanya terjadi pada mobil listrik. Teknologi memang terus berkembang.
Namun, perbedaannya pada EV terasa lebih kuat karena perkembangan baterai dan sistem elektrifikasi menjadi bagian utama dari kendaraan.
Jawabannya, kekhawatiran tersebut memang memiliki dasar, tetapi tingkat relevansinya berbeda untuk setiap orang.
Otofriends yang tinggal di rumah dengan fasilitas charging, menggunakan mobil untuk perjalanan harian yang terukur dan memiliki akses bengkel resmi mungkin akan menghadapi tantangan berbeda dibanding orang yang tinggal di apartemen dan rutin melakukan perjalanan jauh.
Pasar EV Indonesia sendiri terus berkembang. IEA mencatat harga relatif mobil listrik di Indonesia semakin kompetitif pada 2025, sementara penetrasi produk dari berbagai produsen juga semakin memperluas pilihan konsumen.
Jadi, sebelum membeli, jangan hanya bertanya apakah mobil listrik bagus atau tidak.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah mobil tersebut cocok dengan kebutuhan kamu.
Cek jarak tempuh harian, fasilitas charging di rumah, rute perjalanan, jaringan servis, garansi baterai, biaya kepemilikan dan perkiraan nilai jual kembali.
Dengan cara tersebut, keputusan membeli mobil listrik tidak lagi didasarkan pada rasa takut atau sekadar ikut tren, tetapi berdasarkan kebutuhan dan kondisi penggunaan Otofriends sendiri.
Bagikan
