
Pengemudi merasakan gejala engine knocking seperti adanya suara ketukan logam atau “ngelitik” dari mesin, ketika sedang berkendara. Akan lebih terdengar, saat berakselerasi.
Tentu saja kondisi ini tidak normal. Karena artinya, pembakaran di ruang bakar terjadi tidak normal atau prematur.
Sebaiknya jangan anggap sepele. Kalau dibiarkan, risikonya mesin bisa jebol dan perlu biaya besar untuk memperbaikinya.
Nah, biar tidak berlarut-larut, pertama-tama penting untuk kita mengenali dulu gejala engine knocking. Baru setelah itu memahami akibatnya, kalau dibiarkan berlarut-larut.

Sumber: Otoseken
Gejalanya seperti bunyi ketukan logam yang khas. Mirip “kletek-kletek”, dari area kap mesin.
Bunyi muncul saat mesin sedang ada beban kerja, seperti berakselerasi (ketika pedal gas diinjak), menanjak, atau membawa beban berat pada putaran mesin rendah.
Akselerasi terasa berat. Bisa dirasakan saat pedal gas diinjak, respons kendaraan lambat. Istilahnya, ngempos.
Suhu mesin juga ikutan naik. Karena pembakaran yang tidak merata menimbulkan titik panas ekstra di ruang bakar. Temperatur kerja mesin juga naik di atas normal.
Pembakaran yang ngaco, bikin energi bahan bakar tidak terkonversi tidak optimal menjadi tenaga. Akibatnya, pengemudi cenderung injak gas lebih dalam. Ujung-ujungnya, boros BBM.
Kalau knockingnya sudah stadium lanjut, saat kondisi Idle, putaran mesin bisa tidak stabil. Bergetar hebat atau pincang, karena proses pembakaran di setiap silinder, tidak selaras.

Penyebab ini paling sering ditemui. Kendaraan nekat pakai bahan bakar dengan nilai oktan lebih rendah dari rekomendasi pabrikan.
Oktan yang terlalu rendah, membuatnya jadi lebih mudah terbakar sebelum busi memercikkan api.
Busi yang sudah aus, kotor, atau tidak layak, akan menghasilkan percikan api yang tidak stabil. Pembakaran jadi tidak sempurna, terutama saat berakselerasi.
Selain itu, busi yang tidak sesuai spesifikasi, misalnya terlalu “panas” (heat range salah) atau tingkat keausan busi yang sudah tinggi, juga bisa menyebabkan knocking.

Sumber: Otomotifnet
Karbon yang menumpuk di kepala silinder atau ruang bakar menyerap panas dan menciptakan titik nyala prematur.
Ada dua mekanisme yang menyebabkannya, yakni efek titik panas (hot spot) dan peningkatan rasio kompresi efektif.
Kalau kondisi ini ketemu dengan bahan bakar beroktan rendah yang ketahanan terhadap suhu dan tekanan tingginya lebih lemah, maka ledakan jauh lebih mudah terjadi.
Gambarannya, pengapian memercikkan api terlalu awal sebelum piston mencapai Titik Mati Atas (TMA).
Kondisi ini seperti memaksa mesin bertarung melawan dirinya sendiri. Piston lagi berusaha naik, tetapi ledakan pembakaran sudah memaksanya turun.
Akibat terciptanya lonjakan tekanan, sisa bahan bakar meledak prematur dan memicu benturan gelombang knocking.
Suhu yang tinggi di ruang pembakaran (overheat) akan membuat bahan bakar jadi lebih mudah terbakar sebelum waktunya.
Masalah overheat umumnya berasal dari sistem pendingin yang bermasalah, seperti coolant yang kurang atau radiator yang bocor.
Pembakaran pada mobil-mobil modern, umumnya dikontrol oleh ECU dengan berbagai sensor, seperti sensor oksigen dan sensor knock sensor.
Kalau sensor-sensir bermasalah, ECU bisa salah mengatur waktu pengapian dan campuran bahan bakar, sehingga memicu knocking.

Hati-hati, engine knocking sebaiknya tidak dibiarkan berlarut-larut. Karena efeknya akan merembet ke mesin mobil.
Perlu dipahami, knocking menghasilkan gelombang kejutan (shockwave) dan suhu ekstrem yang tidak mampu ditahan oleh komponen internal mesin.
Akibatnya akan muncul kerusakan berupa:
Gelombang kejutan dari pembakaran yang tidak normal akan mengikis permukaan atas piston. Efeknya piston akan terlihat seperti terkerat atau berlubang-lubang kecil.
Akibat suhu tinggi, pinggiran piston juga bisa meleleh dan membuat dinding piston retak sampai patah.
Getaran frekuensi tinggi dalam waktu lama bisa menyebabkan patahnya ring piston.
Celakanya, serpihan ring piston bisa menggores dinding silinder yang mengakibatkan bocor kompresi dan terbakarnya oli. Cirinya bisa dilihat dari keluarnya asap putih dari knalpot.
Pembakaran prematur akan menghasilkan lonjakan tekanan ekstrem yang ujung-ujungnya merusak paking kepala silinder.
Kalau paking sudah jebol, antara oli mesin dan cairan pendingin (coolant) bisa bercampur. Oli akan berubah warna, mirip susu cokelat.
Benturan gaya yang berlawanan, antara piston yang bergerak naik, dengan ledakan yang mendorong turun, memberi beban kejut kepada stang seher (Connecting Rod).
Dalam jangka panjang, situasi ini bikin stang seher bengkok. Bahkan berisiko patah hingga tembus ke blok mesin.
Kombinasi antara panas tinggi dan getaran frekuensi tinggi dari knocking akan merapuhkan keramik busi, akhirnya pecah. Pecahan ini akan sangat berbahaya bagi komponen lain.
Panas berlebih yang terkumpul di ruang bakar juga akan berisiko membakar katup buang (Exhaust Valve) atau membuatnya bengkok.

Sumber: Motor Trend
Pakai bahan bakar yang oktannya lebih tinggi dari rekomendasi pabrikan, secara umum akan aman-aman saja dan tidak merusak mesin. Cuma, tidak ada keuntungan signifikan yang akan didapat.
Kalau pun ada “kerugian”, paling hanya pada masalah biaya yang lebih mahal, sementara tidak ada keuntungan yang signifikan.
Ada juga risiko kecil yaitu potensi penumpukan deposit karbon di kepaa piston, katup dan saluran buang dalam jangka panjang. Penyebabnya, karena ada sebagian molekul bahan bakar yang tidak terbakar sempurna.
Kalau Otofriends ingin memastikan mobil bekas yang hendak dibeli mengalami gejala engine knocking atau tidak, pakai saja jasa inspeksi mobil bekas Otospector.
Dengan pemeriksaan yang mendalam dan dilakukan tenaga profesional, Otofriends akan mendapat gambaran menyeluruh tentang kondisi mesin dari mobil yang akan dibeli.
Mobil bekas juga akan semakin berkualitas jika mendapat garansi mobil bekas dari Otospector. Segala kerusakan mesin dan transmisi yang terjadi selama periode garansi, akan dijamin perbaikannya.
Bagikan
