
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan kalau Otofriends berniat membeli mobil listrik bekas.
Yang terutama, tentu bekal informasi yang cukup untuk mencari model, melakukan pengecekan, dan menentukan pilihan terbaik, sesuai kebutuhan.
Mengingat mobil listrik tergolong teknologi baru, maka pada umumnya pengalaman membeli mobil listrik bekas juga baru dialami banyak orang.
Bahkan, bukan cuma calon pembeli. Sebagian besar pemain di bisnis mobil listrik bekas, baik itu dealer, platform jual-beli, maupun teknisi independen, juga masih tergolong baru di ekosistem ini.
Meski beberapa dealer mobil bekas sudah mulai menerima unit EV; tetapi keahlian dan standar penilaian khusus untuk mobil listrik bekas, baru berjalan beberapa tahun terakhir, seiring ramainya industri mobil listrik.
Nah, dalam situasi yang masih serba baru itu, apa saja yang harus diperhatikan saat membeli mobil bekas bagi calon konsumen? Yuk, kita lihat:

Sumber: Carvaganza
Kesehatan baterai (State of Health – SOH) jadi fokus utama pengecekan mobil listrik karena baterai merupakan komponen paling krusial, sekaligus termahal di mobil listrik.
Pengecekan nilai SOH sebaiknya berasal dari diagnosis resmi bengkel atau dealer resmi pabrikan. Hal utama yang perlu dipastikan, usahakan SOH mobil masih di atas 80% – 85%.
Pemindaian atau scan diagnosis resmi dari bengkel punya kelebihan:

Pastikan garansi pada mobil listrik, masih berlaku. Terutama garansi baterai.
Mobil listrik umumnya punya dua garansi, yakni garansi kendaraan dan garansi baterai.
Garansi dipisahkan, karena baterai merupakan komponen yang paling mahal dan usia pakainya berbeda dengan bagian mobil yang lain.
Untuk garansi kendaraan secara umum, biasanya berlaku 3-5 tahun atau 100.000 km.
Yang dijamin dalam garansi kendaraan adalah suspensi, AC, power window, motor wiper, hingga fitur infotainment. Durasi dan jenis komponen yang digaransi, mirip-mirip dengan garansi mobil konvensional.
Sedangkan garansi baterai, durasinya jauh lebih lama, umumnya 8 tahun atau 160.000 km. Alasannya, karena baterai jadi komponen utama sekaligus penentu nilai mobil listrik bekas.
Kalau Otofriends menemukan mobil listrik bekas yang usianya sudah di atas atas 4 atau 5 tahun, mungkin garansi kendaraannya sudah berakhir. Kalau ada kerusakan, tentu pembeli yang harus siap mengeluarkan perbaikan sendiri.
Namun dalam usia kendaraan seperti itu, garansi baterai masih berlaku, sampai sekitar 3-4 tahun lagi. Tentu, selama tidak hangus.

Sumber: Hyundaimobil
Pada proses ini, kita memastikan segala komponen dan perlengkapan yang terkait pengisian daya, ada dalam kondisi baik.
Lakukan pemeriksaan pada soket pengisian di mobil (charging port). Pastikan tidak ada bekas korosi, retak, atau pin terbakar.
Cek juga, segala kelengkapan kabel pengisi daya bawaan mobil. Biasanya terdiri atas portable charger, adaptor, atau wall charger.
Karena mobil listrik dipenuhi fitur berbasis komputer dan sensor, maka fungsi-fungsi beberapa fitur harus dipastikan normal. Antara lain sistem infotainment, layar instrumen, sensor radar/kamera, dan navigasi.
Begitu juga dengan dashboard. Pastikan tidak ada indikator error atau malfungsi.
Berbeda dengan mobil konvensional yang bisa dengan cuek dikerjakan di bengkel umum, bagi mobil listrik, itu haram hukumnya.
Bagi mobil listrik bekas, catatan servis di bengkel resmi sangat penting artinya. Karena catatan ini terkait dengan garansi baterai; apakah masih valid atau sudah hangus.
Sebab, hampir seluruh pabrikan EV memberlakukan garansi baterai hanya berlaku jika mobil diservis di bengkel resmi dan tepat waktu. Garansi bisa gugur jika melewatkan servis penting ini.
Riwayat servis juga berhubungan dengan update dari software Battery Management System (BMS).
Pembaruan ini penting agar performa sel baterai selalu prima, mengatur regulasi suhu saat charging, dan memperbaiki celah bug keamanan.
Kalau EV jarang diservis di bengkel resmi, ada kemungkinan mobil masih pakai software lama yang bikin kinerja baterai tidak efisien. Degradasi baterai juga makin cepat.

Jika memungkinkan dilakukan test drive, maka Otofriends berkesempatan melakukan beberapa pengujian sendiri.
Pertama, lakukan pengecekan rem regeneratif dari beberapa level. Mulai dari yang ringan sampai one-pedal drive.
Perhatikan seberapa mulus transisi pengeremannya. Kalau mobilnya sehat, tak akan ada guncangan kasar atau bunyi jedug atau dengung aneh dari motor penggerak, saat pengereman.
Lalu perhatikan konsumsi daya mobil. Coba dikira-kira, apakah penurunan persentase baterai sesuai jarak tempuhnya.
Terakhir, perhatikan keheningan kabin. Cek apa ada bunyi dengung yang aneh dari motor listrik saat akselerasi atau deselerasi.

Sumber: Volkswagen
Beberapa jaringan bengkel umum yang besar sudah punya layanan khusus untuk baterai EV maupun Hybrid.
Layanannya bisa berupa rekondisi sel baterai, kalibrasi baterai untuk menyeimbangkan tegangan antar-sel, perbaikan thermal management, dan pengecekan SOH.
Tetapi harus diperhatikan, memperbaiki baterai di bengkel semacam ini, berisiko membatalkan garansi baterai. Karena sudah pasti baterai akan dibongkar.
Karena itulah bengkel-bengkel semacam ini menyasar konsumen yang garansi mobil EV-nya sudah habis atau hangus.
Otofriends yang ingin mengecek kondisi mobil listrik bekas, lebih pas kalau memakai jasa inspeksi mobil bekas Otospector.
Lewat inspeksi yang mendalam dan profesional, kondisi mobil mobil listrik bisa diketahui secara menyeluruh.
Mobil bekas juga akan semakin terlindungi berkat garansi mobil bekas Otospector. Perbaikan mesin dan transmisi akan dijamin sampai tuntas.
Bagikan
