
Di tengah menjamurnya pemakaian mobil listrik atau EV, satu hal penting yang perlu diedukasi kepada para pemakainya adalah bagaimana cara mencegah kerusakan baterai mobil listrik.
Maklum, baterai memang salah satu komponen terpenting di dalam mobil listrik.
Kalau sampai terjadi penurunan fungsi baterai, secara teknis akan langsung berpengaruh ke jarak tempuh, daya akselerasi, lambatnya pengisiannya, dan estimasi persentase baterai yang jadi tidak akurat.
Dari segi pasaran mobil bekasnya, harga jual kendaraan juga akan turun parah. Ruginya jadi dobel-dobel.
Nah, bagaimana cara mencegah kerusakan baterai mobil listrik? Sederhana saja, ini poin-poinnya:

Teorinya begini: baterai bakal aman sentosa, kalau isinya ada di rentang daya menengah.
Kalau baterai terlalu kosong, misal sampai 0%, sel tegangan sel bisa turun terlalu rendah. Kimia baterai bisa rusak permanen.
Tetapi kalau dicas sampai 100% juga tidak baik. Pengisian daya sampai full terus-terusan, bikin tekanan panas dan tegangan tinggi pada sel baterai.
Paling aman, cukup isi 80% saja untuk pemakaian harian. Boleh sekali-kali 100% kalau mau perjalanan jauh.
Aturan ini juga berlaku saat mobil ditinggal lama dan mobil diparkir berhari-hari. Sisakan baterai di kapasitas 50%.


Sumber: Motorist My
Fast charging atau ngecas cepat, memang praktis. Tapi dibalik itu, panas yang dihasilkan akan tinggi dan arus listrik dipaksa masuk sangat cepat.
Biasakan menggunakan AC charging atau home charging yang lebih lambat, untuk pengisian sehari-hari.
Fast charging bukan tidak boleh. Tetapi simpan jatah itu untuk keperluan darurat, sedang butuh cepat, atau saat perjalanan jauh.

Sumber: Freepik
Bateri sangat sensitif terhadap suhu. Karena itu upayakan parkir di tempat yang teduh, karena panas matahari akan bikin baterai cepat terdegradasi.
Pastikan thermal management system atau sistem pendinginan baterai bekerja baik. Sistem ini bekerja otomatis saat baterai diisi.


Sumber: Kompas.com
Agresif dalam mengemudi, seperti akselerasi kasar dan mendadak berulang-ulang akan menyebabkan arus keluar dari baterai mengalami lonjakan.
Efeknya, suhu internal baterai akan meningkat. Baterai cepat soak.
Optimalkan fitur regeneratif braking untuk pengisian kembali baterai dan menjaga suhunya tetap stabil.
Harga baterai EV boleh dibilang mahal, apalagi jika dibandingkan dengan harga jual kendaraannya. Estimasinya, pada saat ini adalah sekitar 30% sampai 50% dari harga kendaraan.
Gambarannya, Wuling Air EV (Rp100 jutaan), BYD Atto 3 (Rp150 juta – Rp200 jutaan), Hyundai Ioniq 5 (Rp300 juta – Rp400 juta) atau Toyota bZ4X (Rp500 juta).
Jika Otofriends ingin memastikan kondisi mobil listrik bekas, manfaatkan saja jasa inspeksi mobil bekas Otospector. Dijamin hasilnya akurat dan terpercaya.
Mobil akan punya nilai lebih jika dilengkapi garansi mobil bekas dari Otospector. Selain itu tentunya lebih tenang saat dipakai sehari-hari.
Bagikan