
Meski penjualan otomotif nasional sedang lesu beberapa tahun belakangan, tetapi ternyata tetap ada investasi di sektor ini, bahkan sampai membangun pabrik mobil listrik di Subang.
Fakta itu jadi bukti, masih ada sejumlah pengusaha yang optimis dan punya harapan untuk sektor otomotif di masa mendatang.
Apalagi pabrik yang dibangun adalah mobil listrik, di mana pemerintah sedang memberi angin segar berupa insentif pajak dan kemudahan-kemudahan lain.
Apa saja fakta-fakta seputar pendirian pabrik mobil listrik di Subang? Yuk, kita lihat:

Sumber: PT Suryacipta Swadaya
Berdirinya pabrik-pabrik mobil listrik di Subang tak lepas dari keberadaan Kawasan Subang Smartpolitan, sebuah kawasan industri strategis di Subang.
Kawasan ini sangat strategis karena terhubung dengan berbagai sarana infrastruktur yang bisa memangkas biaya logistik.
Ada Pelabuhan Patimbangan yang berjarak 40 km dari lokasi, Jalan Tol Cipali yang menghubungkan dengan Jakarta (arah barat) dan Jawa Tengah (arah Timur), serta Bandar Kertajati untuk pengiriman kargo ringan lewat udara.
Dengan area seluas 2.717 hektar, Subang Smartpolitan menyediakan ruang yang leluasa untuk pabrik-pabrik besar, seperti pabrik mobil.
Lokasinya dari Jakarta juga tak terlalu jauh, hanya sekitar 90 km, dengan jarak tempuh 1,5 jam melalui Jalan Tol Cipali.


Sumber: Oto.com
Vinfast, sebuah merek otomotif asal Vietnam, jadi pabrik mobil listrik di Subang pertama yang beroperasi, yakni mulai 15 Desember 2025.
Dengan investasi sekitar Rp3,5 triliun, Vinfast siap beroperasi dengan kapasitas 50.000 unit per tahun untuk tahap awal.
Menempati lahan seluas 170 hektar, pabrik ini akan menjadi basis produksi mobil listrik dengan setir kanan untuk pasar global.
Pabrik ini juga adalah fasilitas produksi pertama di Asia Tenggara dan kedua di luar Vietnam.
Kelak rencananya Vinfast juga akan memproduksi sepeda motor listrik di pabrik ini.

Sumber: Tintahijau.com
Bukan cuma berhasil menguasai pasar mobil listrik, BYD Auto Indonesia semakin kokoh menancapkan kukunya dengan pendirian pabrik dengan nilai investasi Rp2,3 triliun.
Di pabrik seluas 108 hektar ini, BYD berencana memproduksi 150.000 unit kendaraan listrik per tahun.
Kabar terbaru, sejak Januari 2026, merek asal China ini sudah memulai fase awal operasinya.
Kabarnya, mulai beroperasinya pabrik ini telah memicu gelombang relokasi supplier dari China maupun Jepang ke kawasan Subang.
Akibatnya, harga lahan industri di daerah tersebut naik sampai hingga 30-40%, dibanding sebelumnya.

Sumber: Handal Indonesia Motor
Tak semua merek mobil listrik di Indonesia membangun pabriknya sendiri. Sebagian memilih menggandeng mitra lokal.
Menurut keterangan dari Kementerian Perindustrian RI, Geely Motor Indonesia dan Era Industri Otomotif (Xpeng) memilih menggandeng assembler lokal yaitu Handal Indonesia Motor (HMI).
Ada pula PT National Assemblers yang menaungi merek seperti Aion, Maxus, Citroen sampai VW.
Sedangkan PT Inchcape Indomobil Energi Baru menaungi merek GWM Ora.
Tekanan ban EV dibuat tinggi untuk mengurangi hambatan gulir dan meningkatkan efisiensi daya, sehingga energi akan lebih efisien.
Alasan berikutnya, torsi yang instan membuat akselerasi lebih besar saat pertama kali gas diinjak. Kalau tekanan ban tidak optimal, alur ban akan cepat botak.
Terakhir, bobot EV yang lebih berat sekitar 20%-30% tentu dibutuhkan tekanan yang lebih besar untuk menopangnya.
Jika Otofriends ingin memastikan kondisi mobil listrik bekas, jangan ragu untuk memakai jasa inspeksi mobil bekas Otospector.
Mobil akan semakin nyaman saat pemakaian jika sudah dilengkapi garansi mobil bekas dari Otospector. Lebih tenang saat dipakai.
Bagikan