
Bagi pemilik mobil listrik, pasti sudah paham soal beda fast charging dan slow charging.
Sesuai istilahnya, fast charging merujuk kepada pengisian baterai yang cepat. Lawannya, slow charging yaitu pengisian yang lambat.
Akan tetapi ternyata masih banyak yang belum menyadari, apa sebenarnya efek dari dua cara pengisian baterai itu.
Maklum, tidak semua pemilik mobil punya tingkat kepedulian yang sama terhadap kondisi baterai mobilnya.
Apa sebenarnya beda fast charging dan slow charging yang harus kita pahami? Mari kita tengok fakta-faktanya:

Sumber: Byd-Id.com
Perbedaan pengisian daya cepat atau lambat pada mobil listrik bukan terletak pada jenis baterainya. Baterai sih, secara umum, sama-sama lithium ion.
Perbedaan ada pada metode arus listrik yang masuk dan bagaimana sistem manajemen baterai menanganinya.
Pada pengisian cepat, arus listrik yang dipakai adalah arus bolak-balik (AC), sedangkan pada pengisian lambat arusnya searah (DC).
Karena pada dasarnya listrik PLN adalah AC, maka pada pengisian lambat, arus diubah menjadi DC oleh on board charger di mobil.
Sedangkan pada pengisian cepat, pengubahan arus dilakukan oleh SPKLU, keluar sebagai arus DC dan langsung dimasukkan ke baterai.


Sumber: Team-bhp.com
Pengisian lambat:
Pengisian cepat:

Sumber: Cintamobil
Setiap pilihan metode pengecasan tentu ada efeknya untuk baterai.
Efek terbesar tentu pada metode pengisian cepat, karena baterai menerima tekanan besar.
Akibat timbulnya panas berlebih karena kecepatan arus yang tinggi, baterai akan lebih cepat mengalami penurunan kapasitas.
Dari hasil penelitian, kalau baterai terlalu sering dicas secara cepat, terjadi penurunan kesehatan baterai 5%-10% lebih cepat dibanding yang sering melakukan pengecasan lambat.


Sumber: Hyundaimobil.co.id
Idealnya, pengecasan cepat dilakukan saat mobil dipakai di perjalanan jauh dan butuh pengisian cepat.
Pertimbangnnya karena waktu untuk mengisi di SPKLU biasanya terbatas. Apalagi kalau banyak yang antre!
Pengisian lambat bisa jadi opsi terbaik saat mobil diparkir cukup lama. Misalnya saat di rumah atau di kantor.
Pemilik juga tidak merasa harus buru-buru. Apalagi kalau pemilik ingin menjaga suhu baterai agar umurnya lebih panjang.
Karena kelebihan dan kekurangan dari masing-masing cara pengecasan, maka disarankan pemilik mobil tetap memakai kedua cara itu secara selang-seling.
Jika hanya dilihat dari perbandingan biaya energi dan perawatan, maka memakai EV jelas lebih menguntungkan dibanding mobil konvensional atau ICE.
Saat ini menurut perhitungan, biaya energi mobil listrik sektiar Rp1.500 – Rp2.000 per km. Bandingkan dengan mobil konvensional yang biayanya berkisar Rp3.000 – Rp4.000 (asumsi Pertamax konsumsi 1:12).
Sedangkan dari biaya perawatan, estimasi servis berkala mobil listrik dalam 5 tahun sekitar Rp8 juta – Rp12 juta.
Sementara pada mobil konvensional, bisa mencapai Rp20 juta – Rp25 juta.
Jika Otofriends ingin memastikan kondisi mobil listrik bekas, jangan ragu untuk memakai jasa inspeksi mobil bekas Otospector.
Mobil akan semakin nyaman saat pemakaian jika sudah dilengkapi garansi mobil bekas dari Otospector. Lebih tenang saat dipakai.
Bagikan