
Bisa dikatakan, transmisi adalah salah satu komponen vital di kendaraan. Tanpa komponen ini, gerak kendaraan pasti akan sangat terbatas. Atau malah tidak bisa bergerak sama sekali.
Di dalam kendaraan, tugas transmisi adalah menyalurkan tenaga mesin ke roda. Karena itu bisa dibayangkan, kalau transmisi bermasalah, tentu kendaraan tidak berfungsi sempurna.
Masalahnya, rusaknya transmisi sering kali justru disebabkan kebiasaan jelek pemilik kendaraan. Gara-gara kurang peduli atau memang tidak paham prosedur yang benar, transmisi akhirnya jadi korban.
Apa saja kebiasaan buruk yang bisa merusak transmisi, baik transmisi manual maupun matic? Yuk, kita bedah satu per satu:

Sumber: Tempo.co
Pada transmisi matic, pindah gigi dari D ke R (atau sebaliknya) pada saat mobil masih bergerak, dapat menyebabkan komponen-komponen internal akan berbenturan.
Sementara pada transmisi manual, sering terjadi pengemudi memaksakan gigi 1 saat masih melaju. Padahal rasio gigi 1 dikenal sangat besar, sehingga sinkromes akan bekerja keras untuk menyamakan putaran mesin dan transmisi.
Kondisi ini menyebabkan terdengar bunyi “kreeeek” keras. Tuas juga akan terasa melawan.
Kebiasaan lain yang tak kalah jelek, gigi dipindah ke R pada saat mobil belum berhenti total. Akibatnya antar gir akan bergesekan dan muncul suara kasar. Gigi transmisi bisa rompal atau aus lebih cepat.


Sumber: uniquelynelson.nz
Pada transmisi matic, kebiasaan ini dilakukan saat lampu merah atau macet panjang. Gigi di posisi D dan terus ditahan dengan rem, bikin terjadi tekanan terus-menerus dan muncul panas berlebih pada transmisi.
Untuk mencegahnya, posisi gigi harus dipindahkan ke posisi N, kalau mobil berhenti lebih dari 60 detikan.
Sedangkan pada tranmsisi manual, kejadian yang mirip, adalah saat pengemudi menahan pedal kopling saat gigi masuk, di saat mobil berhenti.
Kalau kebiasaan ini terus dilakukan, release bearing akan aus dan pegas matahari lemas.

Sumber: Domo Transmisi
Pada transmisi matic, pemakaian gigi rendah (L) secara terus-menerus pada kecepatan tinggi atau di jalan rata dapat memicu overheating.
Akibatnya, komponen logam akan bergesekan karena oli berubah karakteristik, seal karet juga akan mengeras, dan ujung-ujungnya kopling akan selip.
Sedangkan pada transmisi manual, pemakaian gigi rendah terus menerus di jalan lurus, akan membuat mesin meraung di RPM tinggi.
Akibatnya piston, ring piston, dan valve train akan aus. Oli juga akan rusak viskositasnya.


Sumber: Suzuki.co.id
Kebiasaan jelek pemilik mobil yang kurang peduli dengan perawatan adalah telat mengganti atau menguras oli transmisi.
Idealnya pengecekan atau penggantian oli transmisi dilakukan setiap 20.000 – 30.000 km.
Pemilik kadang juga mengabaikan kebocoran oli di bawah kolong mobil. Mungkin karena dianggap remeh.
Padahal, kekurangan volume oli sedikit saja, dapat mengganggu sistem hidrolik dan merusak gir di dalamnya.

Sumber: Gridoto
Kondisi ini hanya akan terjadi pada transmisi matic. Yakni mobil didorong atau diderek, sementara roda penggerak masih menempel di jalan.
Untuk mendorong atau menderek mobil matic, kita harus memperhatikan posisi roda penggerak. Misalnya pada mobil berpenggerak roda depan (FWD), maka ban depan harus diangkat saat menderek.
Jika ban tetap di tanah dan berputar, komponen seperti
seperti planetary gear dan kopling akan ikut berputar karena terhubung dengan as roda. Tetapi akibatnya bisa fatal, karena tidak adanya sirkulasi oli pelumas.
Dibandingkan dengan jenis-jenis transmisi matic lain, CVT memang disebut-sebut paling pendek usia pakainya. Sedangkan AT Konvensional, tercatat sebagai yang paling panjang. Usia pakai AT bisa sampai 10 tahunan.
Namun sebenarnya usia pakai transmisi jenis apapun akan sangat tergantung pada pergantian oli tepat waktu dan gaya berkendara. Semakin sembrono pemakaiannya, maka usia transmisi juga makin singkat.
Kalau Otofriends ingin memastikan kondisi matic mobil bekas, percayakan saja inspeksinya kepada jasa inspeksi mobil bekas Otospector.
Dengan inspeksi yang detail dan dilakukan tenaga profesional, maka kondisi kendaraan secara keseluruhan bisa diketahui.
Mobil juga akan semakin bernilai jika dilengkapi juga dengan garansi mobil bekas Otospector. Karena setiap kerusakan mesin dan transmisi bakal dijamin perbaikannya.
Bagikan