
Pada masa terjadinya arus mudik dan arus balik Idul Fitri, biasanya akan muncul dua istilah yang sering digunakan di media massa, yakni tol operasional dan tol fungsional.
Tentu, itu bukan istilah umum sehari-hari. Dan kadang masyarakat dibuat penasaran, apa artinya? Apa perbedaan antara tol operasional dan tol fungsional?
Dengan meningkatnya perjalanan para pemudik di masa libur Idul Fitri 2026 kali ini, kedua jenis jalan tol tersebut tentu saja digunakan untuk menunjang kelancaran.
Nah, biar lebih paham, mari kita lihat fakta-fakta perbedaan tol operasional dan tol fungsional berikut ini:

Sumber: Rumah 123
Secara gampangnya, tol operasional adalah jalan tol yang sudah selesai 100 persen dan sudah lulus Uji Laik Fungsi. Bahkan sudah dipergunakan.
Sedangkan tol fungsional adalah jalur darurat yang dibuka sementara. Tujuannya untuk memecah kemacetan pada saat arus pemakai jalan tol sedang ramai.
Tak jarang konstruksi tol fungsional bahkan belum selesai sepenuhnya.


Sumber: Tribunnews
Pada tol operasional fasiltasnya lengkap mulai dari lampu penerangan jalan, rambu permanen, pagar pengaman, hingga rest area.
Sementara pada tol fungsional, fasilitas sangat terbatas. Lampu penerangan jalan belum ada, sehingga gelap pada malam hari.
Pembatas jalan bisa jadi hanya pakai cone. Rest area juga hanya dibangun berupa posko darurat.

Sumber: Gridoto
Karena sudah beroperasi penuh, jalan tol fungsional memberlakukan tarif sesuai golongan kendaraan.
Aksesnya juga dibuka 24 jam penuh, di berbagai kondisi.
Di jalan tol ini, kendaraan diizinkan melaju sesuai aturan yaitu 60–100 km/jam.
Sedangkan di jalan tol fungsional, karena masih bersifat darurat, maka tidak ada tarif yang dipungut alias gratis.
Waktu aksesnya juga terbatas. Biasanya dibuka pada saat pagi sampai sore hari karena alasan tidak adanya penerangan.
Karena kondisi jalan yang masih darurat, kecepatan kendaraan dibatasi hanya maksimal 40–60 km/jam.

Pulau Jawa
Pulau Sumatera
Pulau Kalimantan
Dari pemantauan lewat media massa pada Arus Mudik Idul Fitri 2026, sejauh ini belum ada persoalan serius menyangkut pengisian baterai EV.
PLN juga sudah menyediakan sekitar 1.680 SPKLU di jalur utama mudik, sepanjang Sumatera – Jawa – Bali, dengan jarak rata-rata antar SPKLU sekitar 22 km.
Di masa-masa mendatang, teknologi pengecasan baterai EV juga akan semakin maju, di mana waktu pengecasan akan semakin singkat. Saat ini teknologi terbaru ada yang kurang dari 10 menit. Jadi rasanya akan semakin membaik.
Mau beli EV bekas untuk perjalanan jauh? Jangan lupa untuk memastikan kualitasnya, percayakan inspeksinya ke jasa inspeksi mobil bekas Otospector.
Sebelum jalan-jalan, pastikan EV sudah dilengkapi garansi mobil bekas Otospector. Mobil akan nyaman tanpa was was untuk pemakaian saat mudik maupun sehari-hari.
Bagikan