
Mobil modern kini hadir dengan berbagai pilihan jenis transmisi. Kalau dulu pilihannya hanya manual atau otomatis konvensional, sekarang Otofriends mungkin mulai sering mendengar istilah CVT, AT, e-CVT, hingga DCT. Nah, salah satu yang cukup banyak digunakan pada mobil-mobil terbaru adalah DCT (Dual Clutch Transmission).
Transmisi DCT mulai banyak diadopsi oleh berbagai pabrikan dunia, termasuk merek Eropa, Korea, hingga China. Beberapa mobil yang dipasarkan di Indonesia seperti Chery Omoda 5, Geely Coolray, Hyundai Santa Fe generasi tertentu, hingga beberapa model BMW dan Mercedes-Benz juga menggunakan teknologi ini.
Lantas, sebenarnya apa itu transmisi DCT? Bagaimana cara kerjanya? Apakah lebih baik dibanding CVT atau transmisi otomatis biasa? Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

DCT merupakan singkatan dari Dual Clutch Transmission, yaitu sistem transmisi otomatis yang menggunakan dua kopling (clutch) untuk mengatur perpindahan gigi.
Berbeda dengan transmisi otomatis konvensional yang menggunakan torque converter, DCT mengandalkan dua buah kopling yang bekerja secara bergantian sehingga proses perpindahan gigi menjadi jauh lebih cepat.
Secara sederhana, satu kopling bertugas mengatur gigi ganjil (1, 3, 5, 7), sedangkan kopling lainnya mengatur gigi genap (2, 4, 6) serta gigi mundur.
Ketika mobil masih menggunakan gigi pertama, sistem sebenarnya sudah menyiapkan gigi kedua. Saat waktunya berpindah, kopling pertama akan melepas tenaga dan kopling kedua langsung mengambil alih dalam hitungan milidetik.
Inilah yang membuat perpindahan gigi pada DCT terasa sangat cepat dan responsif.

Supaya lebih mudah dipahami, bayangkan ada dua orang yang sedang bergantian mengoper tongkat estafet.
Saat orang pertama masih memegang tongkat, orang kedua sudah siap menerima.
Begitu tongkat dilepas, orang kedua langsung melanjutkan tanpa jeda yang berarti.
Prinsip kerja DCT juga hampir sama.
Misalnya:
Perpindahan tersebut berlangsung sangat cepat sehingga hentakan terasa lebih minim dibanding beberapa jenis transmisi lainnya.


Jenis ini menggunakan oli sebagai pendingin kopling.
Kelebihannya:
Namun, konstruksinya lebih kompleks sehingga biaya produksi dan perawatannya juga cenderung lebih tinggi.

Jenis kedua adalah dry clutch.
Kopling tidak terendam oli sehingga:
Namun, jenis ini lebih sensitif terhadap panas, terutama jika mobil sering digunakan dalam kondisi macet yang parah.

Inilah keunggulan utama DCT.
Karena gigi berikutnya sudah disiapkan sebelumnya, perpindahan dapat berlangsung dalam waktu yang sangat singkat.
Hasilnya:
Karena kehilangan tenaga (power loss) lebih kecil dibanding transmisi otomatis konvensional, konsumsi bahan bakar DCT umumnya cukup efisien.
Pada beberapa model mobil, efisiensinya bahkan mendekati transmisi manual.
Tidak heran jika banyak mobil performa tinggi menggunakan DCT.
Teknologi ini memungkinkan mesin tetap berada pada putaran optimal ketika perpindahan gigi berlangsung.
Akibatnya, akselerasi menjadi lebih agresif.
Bagi Otofriends yang suka berkendara di jalan tol atau jalur pegunungan, DCT mampu memberikan sensasi berkendara yang lebih responsif dibanding beberapa jenis transmisi lainnya.
Pada kondisi lalu lintas yang sangat padat, beberapa mobil bertransmisi DCT dapat terasa sedikit menghentak ketika mulai berjalan.
Hal ini terjadi karena karakter kerjanya yang menyerupai kopling manual.
Meski teknologi terbaru terus berkembang untuk mengurangi gejala tersebut, karakter ini masih bisa dirasakan pada beberapa model kendaraan.
Karena konstruksinya lebih kompleks dibanding transmisi otomatis biasa, biaya servis maupun penggantian komponen DCT umumnya lebih tinggi.
Oleh karena itu, pemilik kendaraan sebaiknya mengikuti jadwal perawatan sesuai rekomendasi pabrikan.

Khusus tipe dry clutch, penggunaan dalam kemacetan panjang secara terus-menerus dapat meningkatkan suhu kopling.
Jika sering dipaksa bekerja dalam kondisi ekstrem, umur komponen bisa menjadi lebih pendek.
Pertanyaan ini sering muncul.
Jawabannya tergantung kebutuhan.
CVT terkenal karena perpindahan tenaganya sangat halus tanpa terasa perpindahan gigi.
Sementara DCT lebih mengutamakan performa.
Beberapa mobil yang menggunakan transmisi DCT antara lain:
Setiap pabrikan memiliki penyempurnaan teknologi masing-masing sehingga karakter perpindahan giginya bisa berbeda.
Gunakan oli transmisi sesuai spesifikasi pabrikan, terutama untuk tipe wet clutch.
Saat berhenti di tanjakan, gunakan rem atau fitur Auto Hold jika tersedia.
Kebiasaan menahan mobil hanya dengan pedal gas dapat mempercepat keausan kopling.
Kick down memang tidak dilarang, tetapi penggunaan yang terlalu sering dapat meningkatkan beban kerja transmisi.
Peningkatan tenaga mesin secara ekstrem tanpa penyesuaian transmisi dapat memperpendek usia komponen DCT.
Jawabannya, ya.
Dengan perawatan yang benar, transmisi DCT dapat memiliki umur pakai yang panjang.
Kunci utamanya adalah:
Perkembangan teknologi juga membuat DCT generasi terbaru jauh lebih andal dibanding generasi awal yang sempat mendapat sejumlah keluhan di beberapa pasar.
Otofriends, transmisi DCT (Dual Clutch Transmission) merupakan teknologi transmisi otomatis yang menggunakan dua kopling untuk menghasilkan perpindahan gigi yang sangat cepat, efisien, dan responsif.
Berkat karakter tersebut, DCT banyak digunakan pada mobil-mobil modern yang mengutamakan performa tanpa mengorbankan efisiensi bahan bakar.
Meski memiliki beberapa kekurangan, seperti biaya perawatan yang relatif lebih tinggi dan karakter yang sedikit berbeda saat menghadapi kemacetan, DCT tetap menjadi salah satu teknologi transmisi terbaik saat ini jika dirawat dengan benar.
Jadi, kalau kamu sedang mempertimbangkan membeli mobil dengan transmisi DCT, jangan hanya melihat performanya saja, tetapi pahami juga cara kerja dan perawatannya agar kendaraan tetap nyaman digunakan dalam jangka panjang.
Bagikan
