
Penyebab kerusakan baterai mobil hybrid sampai akhirnya drop, bisa bermacam-macam.
Bisa mulai dari usia pakai baterai itu sendiri yang memang sudah sampai batas, perlakuan kita terhadap baterai, sampai faktor di luar kendali pemilik kendaraan.
Dibandingkan mobil listrik murni (BEV), usia pakai baterai hybrid masih lebih awet. Tetapi bukan berarti Otofriends bisa mengabaikan kesehatan baterai, sampai akhirnya drop.
Begitu juga dalam hal harga, baterai hybrid masih tetap lebih murah dibanding baterai BEV. Tetapi kalau baterai sampai harus diperbaiki atau diganti sebelum waktunya, tetap saja akan memboroskan keuangan.
Nah, jika Otofriends ingin kondisi kesehatan baterai mobil hybridnya tetap prima, tentunya harus mengetahui berbagai kondisi yang menyebabkan baterai rusak.
Mari kita bedah satu persatu:

Sumber: Carro
Soal usia pakai baterai, tentu saja kita tidak bisa mengelak. Seiring pemakaian dan siklus pengecasan, umur baterai akan semakin pendek.
Dalam penggunaan normal, usia pakai baterai mobil hybrid berkisar antara 8 hingga 10 tahun, setara dengan jarak tempuh 150.000 hingga 200.000 km.
Pada beberapa kasus, bahkan baterai yang terawat dengan baik, masih sangat layak pakai hingga 12 tahun.
Karena usia pakai yang cukup panjang, maka pabrikan otomotif besar umumnya menjadikan usia pakai sebagai standar jaminan garansi.
Untuk garansi, waktu yang dipakai umumnya selama 8 tahun atau 160.000 km.
Selepas dari usia pakai baterai, maka kapasitas simpan baterai akan menurun secara alamiah. Solusinya tentu harus diganti baru atau di-rekondisi.

Otofriends tentu maklum, musuh utama baterai, baik yang berbahan Lithium-ion maupun Nickel-Metal Hydride (NiMH) adalah panas.
Gara-gara sering kepanasan, degradasi sel baterai akan terjadi lebih cepat dari seharusnya.
Ada berbagai pemicu panas pada baterai. Kalau dari kondisi baterai sendiri, bisa berasal dari filter baterai yang tersumbat.
Kisi-kisi atau saluran udara pendingin baterai bisa tersumbat debu, kotoran, atau bahkan barang-barang seperti bantal. Kalau kisi-kisi tertutup, pendinginan baterai akan terganggu dan suhu melonjak.
Ada juga penyebab lain, yaitu seringnya kendaraan parkir di bawah terik matahari. Waks!
Kedengarannya aneh, ya? Tetapi faktanya memarkir kendaraan di bawah terik matahari langsung secara terus-menerus bisa meningkatkan suhu kabin serta kompartemen baterai.
Ujung-ujungnya, baterai kepanasan juga!

Sumber: Wuling
Gaya mengemudi yang agresif, bahkan kasar, tentu tidak akan menimbulkan masalah berarti di mobil konvensional. Tetapi di mobil hybrid, bisa bikin baterai “stress”.
Saat mobil dikemudikan agresif, pengemudi akan melakukan kickdown dan pengereman terus menerus, membuat baterai bekerja terlalu keras.
Penjelasannya begini. Ketika pedal gas diinjak dalam-dalam, motor listrik dituntut menghasilkan torsi instan, maka komputer akan mengambil daya dalam jumlah besar dari baterai. Terjadilah lonjakan arus pengurasan baterai.
Sebaliknya, saat rem diinjak mendadak dari kecepatan tinggi, sistem regenerative braking akan menyuntikkan listrik dalam jumlah besar dan tegangan tinggi secara mendadak ke sel.
Lonjakan arus yang terus-menerus, antara charge dan discharge ini, menimbulkan panas tinggi pada modul baterai dan memperpendek umur pakai sel-selnya.

Mobil yang nganggur dan hanya diparkir di garasi bukan cuma akan mendatangkan debu. Diam-diam, baterai juga akan terkuras hingga kemudian bermasalah.
Bateri hybrid punya fenomena pengurasan alami seiring berjalannya waktu. Pengurasan ini bahkan tetap terjadi, meski tidak ada perangkat yang bekerja.
Masalahnya, jika mobil didiamkan terlalu lama, misalnya sampai berbulan-bulan, sampai kapasitas baterai 0%, sel-sel baterai akan rusak karena ada reaksi kimia tertentu.
Kondisi ini bisa bikin sel baterai tidak bisa lagi menyimpan arus listrik. Saat mobil akhirnya dinyalakan sekalipun, komputer kendaraan sudah menganggapnya baterai sudah drop atau mati.
Akibatnya, sel baterai kehilangan kemampuan untuk menyimpan arus listrik kembali. Saat mobil akhirnya dinyalakan, baterai sudah dianggap drop atau mati oleh komputer mobil.
Terakhir, jangan lupa, karena mobil modern penuh dengan perangkat elektrik, dalam kondisi diam, mobil hybrid sesungguhnya tidak pernah benar-benar mati total.
Tetap ada alat-alat seperti sistem alarm & keyless entry, Ecu dan memori sistem, GPS bawaan mobil, dll. Awalnya mungkin aki 12 Volt yang terkuras sampai soak.
Ketika aki sudah soak, masalah ini akan merembet sampai baterai utama sampai akhirnya bikin drop.

Sumber: Setir Kanan
Tanda pertama mesin bensin lebih sering bekerja. ECU akan mengaktifkan mesin pembakaran internal lebih cepat karena baterai tidak kuat menahan beban daya.
Kemudian indikator baterai cepat naik-turun. Kita bisa melihatnya di grafik isi baterai di layar dashboard yang penuh saat pengereman. Saat mobil harus merayap, grafik isi baterai
Indikator Baterai Cepat Naik-Turun: Grafik isi baterai di layar dashboard terlihat sangat cepat penuh saat pengereman, namun juga sangat cepat habis saat mobil merayap.
Kalau baterai sampai drop, artinya konsumsi BBM jadi lebih boros. Soalnya motor listrik jadi jarang bekerja.
Biaya penggantian baterai tentunya sangat bervariasi, tergantung teknologinya, ukuran baterai, dan merek kendaraan.
Namun secara umum, kisarannya antara Rp15 juta sampai Rp50 jutaan.
Perinciannya: untuk baterai ringan (Mild Hybrid) dengan kapasitas kecil (10Ah) sekitar Rp12 juta – Rp14 jutaan.
Sedangkan baterai full hybrid seperti MPV besar atau mewah, kisarannya antara Rp30 juta sampai Rp60 jutaan.
Tetapi jangan terlalu panik, karena kalau masa garansi sudah habis, kita tinggal mengganti sel yang rusak saja. Biayanya antara Rp1,5 juta – Rp10 jutaan.
Bagikan
