
Beberapa hari ini, sempat viral video tentang keluhan seorang pemakai Hyundai Ioniq 5 yang mobilnya rusak di beberapa bagian, setelah beberapa kali mencoba parkir paralel di apartemennya.
Pemilik mobil yang kebetulan seorang content creator, bernama Aa Juju itu, komplain ke dealer Hyundai tempatnya beli mobil. Tetapi ternyata respons yang didapatnya sungguh di luar nurul alias nalar.
Menurut salah satu Supervisor Dealer Hyundai di Fatmawati, Hyundai Ioniq 5 memang tidak disarankan parkir paralel karena bisa bikin aki tekor.
Fakta inilah yang membuat bingung Aa Juju, karena menurut dia, ketika beli mobil, sales yang melayaninya mengatakan kalau mobil bisa parkir paralel. Karena ada “jaminan” dari sales inilah, Aa Juju akhirnya membeli mobil itu.
Dari masalah yang viral ini, soal kemampuan parkir paralel pada BEV kembali jadi pembicaraan hangat.
Maklum, saat ini teknologi dari setiap pabrikan yang mengeluarkan varian BEV, amatlah berbeda-beda. Sehingga mekanisme dan kemampuan parkir paralelnya, juga tidak sama.
Kalau Otofriends sedang mencari BEV, tak ada salahnya memahami sedikit isu soal parkir paralel. Apa sih yang perlu kita perhatikan?

Sumber: Astra Otoshop
Ada pengguna BEV yang merasa butuh parkir paralel, tetapi ada juga yang merasa tidak butuh.
Mereka yang butuh biasanya tinggal atau bekerja di gedung di mana area parkirannya terbatas. Mobil kadang tidak mendapat slot parkir, sehingga mau tidak mau harus parkir paralel.
Terlepas dari kebutuhan setiap orang yang berbeda-beda, tentu kemampuan parkir paralel sebuah mobil jelas diperlukan.
Kalau memang tidak digunakan sehari-hari, kadang bisa saja kita menghadapi situasi di mana kemampuan parkir paralel dibutuhkan. Misalnya, saat parkiran penuh dan kita tidak punya alternatif lain.
Masalahnya, tidak semua BEV bisa parkir paralel. Bahkan dalam satu merek, ada sebagian model yang tidak bisa parkir paralel, sementara model lain bisa melakukannya.
Contoh, di merek AION, menurut keterangan salah satu salesnya di media sosial, model seperti Hyptec HT tidak bisa parkir paralel. Tetapi model-model lain seperti Aion V, Aion UT, dan Aion Y Plus bisa melakukannya.

Sebagian BEV yang dikatakan tidak bisa parkir paralel, sebenarnya bukan mutlak tidak bisa, tetapi “tidak disarankan”. Artinya bisa parkir paralel tetapi cuma sebentar, yakni di bawah 3 jam saja.
Situasi ini tidak lepas dari sistem di dalam BEV yang umumnya menggunakan shift by wire di mana transmisi tidak terhubung secara mekanis.
Kalau BEV parkir dengan kondisi rem parkir dibebaskan dan transmisi di posisi Netral (agar bisa didorong), beberapa sensor dan modul tetap aktif sehingga butuh listrik dari aki.
Kalau parkir paralelnya tidak terlalu lama, seperti makan sebentar atau ke toilet, yang hanya di bawah 3 jam, tidak akan jadi masalah.
Lain persoalan kalau parkirnya sampai semalaman, bahkan berhari-hari ditinggal di parkiran. Risikonya aki bisa tekor. Mobil tidak bisa dinyalakan dan harus di-jumper.
Persoalan tidak berhenti sampai di situ saja. Terlalu sering parkir paralel akan menyebabkan ketidakstabilan tegangan listrik pada aki. Efeknya bisa merembet ke sistem lain, misal pada gagalnya sistem fast charging.

Sumber: Mobilianews
Setiap merek yang memproduksi dan menjual BEV di Indonesia, punya prosedur masing-masing untuk mengupayakan parkir paralel. Karena itu bagi pemilik sangat disarankan membaca buku petunjuk dan memahaminya. Atau bertanya kepada mekanik di bengkel resmi.
Contohnya, seperti dimuat di Kabaroto.com, pada beberapa BEV Hyundai atau Wuling, ada beberapa langkah:
Ada beberapa jenis BEV yang dilengkapi tombol Shift Release fisik atau lubang Emergency Lock Release tersembunyi di konsol tengah.
Pada mekanisme semacam ini, pengemudi bisa menekan tombol pakai anak kunci agar tuas transmisi bisa digeser dari posisi P ke N, meski sistem daya kendaraan sudah dalam keadaan Off.

Kasus yang dialami Aa Juju jadi pelajaran sekaligus pengingat bagi calon pembeli BEV. Penting untuk memahami terlebih dahulu isu-isu seputar penggunaan BEV agar sesuai dengan kebutuhan berkendara nantinya.
BEV memang menawarkan kenyamanan tinggi dibanding mobil konvensional (seperti ICE), tetapi terdapat perbedaan signifikan juga dalam pengoperasiannya.
Sejauh ini belum ada solusi permanen untuk BEV tertentu sehingga mekanisme parkir paralelnya tidak menguras aki. Pabrikan tentu terus mengupayakannya.
Kalau memang nantinya Otofriends terpaksa parkir paralel, disarankan untuk terus memantau kondisi aki 12V, lewat aplikasi pendukung. Jika muncul peringatan sistem kelistrikan pada dashboard, segera lakukan pengecekan ke bengkel resmi.

Sumber: Hyundai Motor Group
Masalah parkir paralel sebenarnya menarik jika dilihat dari isu keselamatan dan keamanan berkendara.
Karena faktanya, menurut Pendiri EV Safe seperti dikutip dari Medcom.id, Mahaendra Gofar, parkir paralel sebenarnya termasuk pelanggaran hukum di beberapa negara. Parkir tanpa rem bisa ditilang karena alasan safety.
Adapun fungsi mode-mode yang bisa membuat posisi menjadi netral dalam kondisi darurat, seperti Towing Mode, Trailer Mode, atau Easy Move; sebenarnya hanya untuk memudahkan saat mobil mogok dan harus didorong ke atas truk towing.
Fungsi darurat ini di beberapa pabrikan tertentu seperti Eropa, Amerika, Jepang, atau Korea Selatan; sengaja dibuat tidak mudah diakses secara tidak sengaja atau prosesnya cukup merepotkan. Semua itu karena alasan safety.
Beda dengan pabrikan China yang mempermudah BEV produksinya untuk mengakses mode Netral. Kondisi lalu-lintas di negeri itu, seperti halnya di Indonesia, masih butuh parkir paralel.
Kalau Otofriends ingin mengecek kondisi BEV bekas, jangan ragu untuk memakai jasa inspeksi mobil bekas Otospector yang terpercaya.
Mobil bekas yang telah dibeli akan semakin sempurna kalau dilengkapi juga dengan garansi mobil bekas Otospector. Segala kerusakan mesin dan transmisi bakal ditanggung perbaikannya.
Bagikan
