5 Poin Penting Cara Menyetir Mobil Di Jalan Tol

Mei 27, 2022
By Thomas W
5 Poin Penting Cara Menyetir Mobil Di Jalan Tol-otospector

Bagi pemilik mobil, tentu tidak perlu lagi belajar tentang cara menyetir mobil yang baik dan aman. Apalagi jika sehari-hari si pemilik selalu membawa mobilnya dalam aktivitas sehari-hari.

Akan tetapi saat menyetir di luar kota, apalagi di jalan tol, tentu “aturannya” bisa berbeda. Karena pada perjalanan panjang dan memakan waktu lama, dibutuhkan kemampuan teknis dan psikologis yang memadai. Karena itu tidak ada salahnya kembali Otofriends mengevaluasi cara menyetir mobil di jalan tol.

Berikut ini beberapa poin penting tentang cara menyetir mobil di luar kota atau jalan tol yang didapat Otospector dari berbagai sumber:

#1: Jaga Jarak Aman Dengan Kendaraan Depan

Fitur dan Teknologi Mobil Mewah

Menjaga jarak aman sebenarnya berguna untuk mengantisipasi manuver rem mendadak di depan. Jangan sampai ketika terjadi pengereman mendadak, Otofriends terlambat atau bahkan salah bereaksi.

Menurut teori safety driving, jarak aman yang ideal antar kendaraan adalah dengan hitungan 3 detik. Buat perhitungan jarak tersebut dengan berpatokan pada sebuah benda di jalan.

Mengapa 3 detik? Pertama, alasannya karena penghitungan ini lebih mudah disesuaikan dengan kecepatan kedua mobil dibanding jarak dalam meter.

Alasan kedua, ketika Otofriends mengerem, proses pengereman dengan keamanan dan kenyamanan bagi pengendara butuh waktu 3 detik.

Inspeksi Mobil Bekas Otospector

Baca juga: 3 Tips Aman Berkendara Saat Hujan. Apa yang Harus Diperhatikan?

#2: Jangan Mendahului Dari Kanan

Berkendara Konstan

Imbauan agar kendaraan selalu mendahului dari kanan adalah untuk keselamatan. Karena jika nekat mendahului dari sebelah kiri, maka kendaraan akan berpotensi tidak diketahui keberadaannya.

Kondisi ini dipengaruhi faktor wilayah blind spot yang lebih besar pada sisi kiri kendaraan. Terutama pada kendaraan besar, seperti bus dan truk. Selain itu keberadaan kendaraan lain terbukti lebih mudah diketahui dari sebelah kanan.

Penting diketahui, menyalip dari kiri juga sebuah pelanggaran undang-undang lalu lintas No. 22 tahun 2009 pasal 109. Menyalip dari kiri hanya diperbolehkan pada kondisi tertentu.

Kondisi tertentu misalnya lajur kanan macet akibat kecelakaan, pohon tumbang, jalan berlubang, genangan air, kendaraan mogok, antrean mengubah arah, atau kendaraan yang hendak menyalip bermaksud berbelok ke arah kiri.

#3: Tidak Mengemudi Secara Agresif

Ciri Tabrakan: Tidak Stabil Berkendara

Mengemudi secara agresif selain membahayakan diri sendiri, juga berpotensi merugikan orang lain jika terjadi kecelakaan.

Bukan hanya agresif, faktor kecepatan juga harus diperhatikan. Untuk tol dalam kota aturan kecapatan adalah minimal 60 km/jam dan maksimal 80 km/jam. Sementara untuk tol luar kota, minimal 60 km/jam dan maksimal 80 km/jam.

Hal yang perlu dipahami, di jalan tol semua kendaraan relatif selalu dipacu dalam kecepatan tinggi. Dengan kesadaran akan keselamatan yang minim, akibatnya fatalitas kecelakaan juga akan lebih besar dibanding di jalan raya.

#4: Istirahat Saat Lelah Atau Mengantuk

Berkendara Jauh

Mengemudi dalam waktu lama dengan kondisi jalan yang tidak variatif, seperti di tol, cenderung bikin orang jenuh lalu ngantuk. Padahal mengantuk adalah salah satu penyebab kecelakaan terbesar di jalan tol.

Kecelakaan biasanya terjadi karena pengemudi mengalami microsleep atau tertidur sejenak. Kendaraan hilang kendali lalu terjadi kecelakaan.

Kondisi microsleep, menurut teori keselamatn, tidak terjadi tiba-tiba.  Biasanya setelah 3-4 jam, pengemudi mulai letih. Barulah perlahan pengemudi super letih lalu ngantuk berat. Dan terjadilah microsleep.

Harus diingat, tidak ada obat ngantuk yang efektif kecuali istirahat atau tidur.

Garansi Mobil Bekas Otospector

Baca juga: Keselamatan Di Jalan Raya Ditentukan 5 Langkah Ini

#5: Tidak Membawa Muatan Berlebihan

Mobil Keluarga 2

Pada umumnya jalan tol dilintasi oleh kendaraan yang akan menempuh perjalanan jauh. Di situ pula biasanya kendaraan akan memuat penumpang dan beban dalam kapasitas maksimal. Bahkan berlebihan.

Tentu kondisi ini membahayakan keselamatan. Sebab saat mobil dalam kondisi bobot berlebih jarak main suspensi akan jauh lebih besar dari normal karena daya redam suspensi melebihi batas toleransi.

Saat mengerem, moncong mobil cenderung menjadi lebih turun karena perpindahan bobot yang bergeser ke bagian depan mobil. Akibatnya jarak pengereman bertambah. Bahkan ban depan bisa kehilangan grip.

Pengemudi harus menyadari ini agar dapat mengantisipasi kondisi seperti pengereman mendadak di jalanan. Karena dapat menyebabkan tabrakan beruntun.

Bagikan

Baca Artikel Lainnya

Baca Artikel Lainnya

Apa yang Membuat Orang Takut Beli Mobil Listrik? Ini 8 Kekhawatirannya

September 30, 2026
Mobil listrik semakin mudah ditemukan di jalanan Indonesia. Pilihannya pun sudah jauh lebih banyak dibanding beberapa tahun lalu, mulai dari city car, hatchback, SUV, MPV, sampai sedan listrik. Meski begitu, masih ada calon konsumen yang memilih bertahan dengan mobil bensin. Alasannya bukan selalu karena tidak tertarik dengan teknologi baru. Sebagian justru masih memiliki sejumlah kekhawatiran
Baca Lebih Lanjut

Spesifikasi Mercedes-AMG CLE 646, Cuma 30 Unit dan Bertenaga 646 PS!

September 30, 2026
Mercedes-AMG kembali membuat mobil yang bukan sekadar kencang, tetapi juga sangat terbatas. Kali ini datang dari Mercedes-AMG CLE 646 Spezialanfertigung, coupe performa tinggi yang dikembangkan dengan fokus utama pada driving dynamics. Menariknya, mobil ini bukan sekadar CLE 53 yang diberi tambahan tenaga. Mercedes-AMG melakukan perubahan besar pada mesin, sistem penggerak, bodi, suspensi, aerodinamika hingga bobot
Baca Lebih Lanjut

Mau Beralih dari Mobil Bensin ke Listrik? Pahami 7 Hal Ini Sebelum Beli

September 30, 2026
Beralih dari mobil bensin ke listrik sekarang bukan lagi sekadar mengikuti tren. Pilihan mobil listrik di Indonesia semakin beragam, mulai dari city car, hatchback, SUV, sampai MPV. Infrastruktur pengisian daya juga terus bertambah sehingga penggunaan mobil listrik semakin mudah dibanding beberapa tahun lalu. Namun, membeli mobil listrik tetap membutuhkan pertimbangan yang berbeda dibanding mobil bermesin
Baca Lebih Lanjut