
Bagi Otofriends yang tinggal di daerah dengan kondisi alam berbukit-bukit, berkelok-kelok dan naik-turun; tentunya akan membutuhkan mobil yang andal dalam menanjak.
Dan biasanya, mobil-mobil dengan kemampuan seperti ini, erat kaitannya dengan keberadaan sistem penggerak roda belakang (Rear Wheel Drive – RWD).
Secara teknis, sistem RWD diyakini lebih andal dalam mengatasi jalanan menanjak yang butuh torsi lebih besar, dibanding mobil yang berpenggerak roda depan (Front Wheel Drive – FWD).
Masalahnya, tak semua jenis mobil di pasaran, pakai sistem RWD. Contohnya, mobil jenis sedan umumnya cenderung pakai sistem FWD untuk alasan-alasan teknis.
Sepuluh tahun belakangan, mobil-mobil MPV yang dijual di Indonesia, juga mulai didesain memakai sistem FWD. Awalnya memang banyak diragukan, tetapi nyatanya konsumen ternyata tetap bisa menerimanya.
Meski ada perubahan besar di pasaran menyangkut sistem penggerak, faktanya mobil-mobil RWD tetap dibutuhkan dan mendapat tempat di hati. Pastinya untuk konsumen yang memang membutuhkannya sehari-hari.
Biar makin paham tentang seluk-beluk mobil RWD dan mobil-mobil apa saja yang direkomendasikan. Mari kita dalami fakta-fakta berikut ini:

Sumber: Wikipedia
Faktanya, secara hukum fisika dan distribusi bobot, sistem RWD memang lebih unggul di tanjakan.
Alasannya, karena saat mobil menanjak, pusat gravitasi dan bobot kendaraan berpindah ke area belakang. Tambahan bobot ini makin menekan ban kuat ke aspal. Daya cengkeram dan traksi meningkat. Tenaga tersalurkan sempurna.
Kondisi itu tidak terjadi pada sistem FWD.
Pada SUV atau MPV yang diisi beban penuh, karena bobot berkumpul di belakang, traksi roda malah semakin mantap. Sedangkan pada FWD, beban penuh malah mengurangi tekanan roda depan ke aspal.

Dalam dunia otomotif, angka torsi akan menunjukkan kemampuan kekuatan mobil dalam menanjak
Secara sederhana, torsi bisa diartikan sebagai kemampuan mesin untuk mendorong.
Ketika mobil menanjak, mesin akan melawan gravitasi dan beban kendaraan. Nah, torsi jadi semacam ukuran kemampuan otot dari mesin yang memutar roda dan mendorong bobot itu ke atas.
Saat menghadapi tanjakan, mobil sudah membutuhkan dorongan kuat sejak kecepatan rendah. Di sinilah mesin dengan torsi besar, terutama yang muncul sejak putaran bawah, bakal mendorong mobil naik. Pengemudi tak perlu ngotot dan menginjak gas terlalu dalam.
Saat mobil berhenti di tengah tanjakan, misalnya karena macet, torsi-lah yang akan mendorong kembali dari posisi diam ke bergerak, tanpa membuat mesin mati.

Sumber: Kompas.com
Tak salah kalau ada anggapan bahwa mesin diesel lebih perkasa di tanjakan, dibanding mesin bensin. Karena diesel umumnya mampu menghasilkan torsi yang besar di RPM rendah.
Misalnya, pada Panther 2.5L Turbo (Mesin 4JA1-L) atau populer disebut Panther Kapsul, torsi maksimum ada di 192 Nm pada 1.800 RPM.
Dengan kemampuan seperti itu, cukup dengan menginjak gas secukupnya, mobil sudah bisa menanjak santai.
Beda dengan mesin bensin yang torsi puncaknya relatif kecil dan baru bermain di RPM tinggi. Misalnya, 140 Nm pada 4.200 RPM.
Dengan kemampuan seperti itu, pengemudi mesin bensin, harus pandai-pandai memainkan gas dan menjaga RPM tetap tinggi agar tenaga tidak drop di tengah-tengah.

Sejak Kijang generasi keempat atau Kijang Kapsul, mobil ini sudah dikenal andal di tanjakan. Terutama versi dieselnya. Torsi tidak terlalu besar, tetapi karena rasio giginya pendek, santai untuk urusan menanjak.
Kemampuan menanjak semakin sempurna di era Innova Reborn, di mana torsi varian dieselnya mencapai 342–360 Nm pada 1.200–2.600 RPM.
Angka torsi itu, lebih dari 2 kali lipat dibanding Kijang Kapsul dan sudah dicapai pada RPM rendah.
Innova Reborn diproduksi dari mulai tahun 2015 sampai hari ini (khusus diesel). Harga bekasnya dimulai dari Rp240 juta.
Dipasarkan dengan julukan rajanya diesel, Panther tentu sekaligus juga jadi raja tanjakan. Terutama Panther generasi ketiga atau Panther Kapsul yang dipasarkan pada antara tahun 2000 – 2021.
Dengan torsi 192 Nm pada 1.800 RPM, Panther semakin perkasa berkat dukungan Turbocharger (pada varian Turbo) yang membuat pasokan udara ke ruang bakar jauh lebih padat. Tambahan torsinya bisa sekitar 20 Nm, dibanding Non-Turbo.
Panther sudah stop produksi sejak 2021, tetapi masih tetap dicari konsumen. Saat ini harga bekasnya, tertinggi adalah varian Grand Touring dengan harga Rp210 jutaan.
Statusnya memang medium MPV, tetapi duo kembar ini dikenal andal di berbagai medan, termasuk tanjakan. Yang dimaksud tentunya Avanza/Xenia produksi sebelum tahun 2021, tatkala masih RWD.
Dengan torsi 136–141 Nm pada 4.200 RPM, mobil ini begitu enteng melibas tanjakan, berkat rasio power to weight-nya.
Bobot bodi yang hanya 1.085 kg ditopang mesin 1.5 Liter dan RWD, membuat Avanza/Xenia mampu meraih momentum tanpa harus mencapai RPM tinggi.
Di pasaran mobil bekas, Avanza RWD tertinggi dihargai Rp 180 jutaan.
Si kembar Rush/Terios mendapat sorotan tersendiri di segmen Low SUV, karena keduanya tetap memakai RWD, di tengah kompetitor yang umumnya FWD.
Transmisi juga masih matic konvensional (Torque Converter) yang unggul dalam menggenjot torsi dibanding para kompetitornya yang pakai CVT.
Dengan torsi 136 Nm pada 4.200 RPM, Rush/Terios terasa pas diajak berwisata keluar kota bersama keluarga (7-seater) dan menghadapi berbagai kondisi jalan.
Dengan tetap memakai RWD, Terios/Rush membuat penumpang tak khawatir selip di medan menanjak. Ditambah fitur Hill Start Assist yang mencegah mobil mundur di tanjakan, membuat keluarga semakin nyaman.
Untuk pilihan Rush/Terios terbaik, direkomendasikan yang Generasi 2 atau tahun produksi 2017 ke atas. Harga bekasnya mulai Rp150 jutaan.
Di segmen medium MPV dengan pintu geser, pilihan terbaik adalah NAV1. Torsi Maksimum: 196 Nm pada 4.400 RPM
Selain faktor RWD-nya yang memang unggul, mesin 2.0L dengan teknologi Valvematic (pengaturan jeda dan angkat katup) membuat torsi mampu mengisi saat mobil butuh dorongan di tanjakan.
Kemampuan nanjak masih ditunjang Mode “B” (Brake) yang membantu menahan rasio gigi terendah agar tidak kehilangan momen saat nanjak. Mode ini juga menjadi engine brake saat turun.
Harga Toyota NAV1 (2012-2017) berkisar Rp115 juta – Rp145 juta.

Sumber: Sindonews
Meski ada keunggulannya, terutama soal menanjak, mobil-mobil RWD juga punya beberapa kelemahan yang membuat sebagian orang tidak mau meminangnya. Antara lain:
Kalau Otofriends ingin mengecek kondisi mobil RWD bekas yang akan dipinang, jangan ragu untuk memakai jasa inspeksi mobil bekas Otospector. Dengan inspeksi yang dikerjakan inspektor profesional, kondisi mobil dapat diketahui secara menyeluruh.
Mobil bekas akan semakin terlindungi berkat garansi mobil bekas Otospector yang akan menjamin perbaikan mesin dan transmisi, andai terjadi kerusakan.
Bagikan
