Cara Menghitung Depresiasi Harga Mobil Bekas Supaya Tidak Rugi Saat Dijual Lagi

Agustus 24, 2026
By Getan Metodius
Cara Menghitung Depresiasi Harga Mobil Bekas Supaya Tidak Rugi Saat Dijual Lagi-otospector

Otofriends, pernah merasa harga mobil yang kamu beli beberapa tahun lalu tiba-tiba turun cukup jauh ketika hendak dijual?

Tenang, kamu tidak sendirian. Mobil memang termasuk aset yang mengalami depresiasi, yaitu penurunan nilai seiring bertambahnya usia dan pemakaian.

Berbeda dengan properti yang dalam kondisi tertentu bisa mengalami kenaikan harga, kendaraan pada umumnya justru kehilangan sebagian nilainya setelah digunakan.

Menariknya, besarnya depresiasi setiap mobil tidak selalu sama. Dua mobil dengan harga baru yang mirip bisa memiliki harga bekas yang berbeda jauh setelah beberapa tahun.

Kondisi kendaraan, popularitas model, biaya perawatan, riwayat servis, kilometer, hingga kondisi pasar ikut memengaruhinya. 

Toyota Pressroom juga menjelaskan bahwa resale value dipengaruhi usia pemakaian, pilihan model baru yang muncul, serta kondisi kendaraan seperti kerusakan atau riwayat kecelakaan.

Karena itu, kalau kamu sedang berencana membeli mobil dan sudah memikirkan kemungkinan menjualnya kembali beberapa tahun mendatang, memahami depresiasi sejak awal adalah langkah yang cukup penting.

Apa Itu Depresiasi Harga Mobil?

Cara Menghitung Depresiasi Harga Mobil Bekas

Sederhananya, depresiasi adalah selisih antara nilai mobil ketika dibeli dengan nilai ketika dijual kembali.

Misalnya, kamu membeli mobil dengan harga Rp300 juta. Setelah tiga tahun, mobil tersebut bisa dijual dengan harga Rp240 juta.

Artinya, secara nominal nilai mobil mengalami penurunan sebesar Rp60 juta.

Rumus sederhananya:

Depresiasi = Harga Beli – Harga Jual Kembali

Sedangkan untuk mengetahui persentasenya:

Persentase Depresiasi = (Harga Beli – Harga Jual) ÷ Harga Beli × 100%

Dengan contoh tadi:

  • Harga beli: Rp300 juta
  • Harga jual: Rp240 juta
  • Penyusutan: Rp60 juta
  • Persentase depresiasi: 20%

Angka tersebut merupakan contoh perhitungan, bukan patokan bahwa semua mobil pasti turun 20%. Di pasar sebenarnya, depresiasi sangat bergantung pada model dan kondisi kendaraan.

Bursa Mobil Bekas Online Berkualitas di Otos.id

Kenapa Harga Mobil Bekas Bisa Turun?

penurunan harga mobil

Ada beberapa alasan mengapa mobil mengalami depresiasi.

1. Usia Kendaraan Bertambah

Semakin lama mobil digunakan, semakin tua pula usia komponen dan kendaraan secara keseluruhan.

Mobil keluaran 2026 tentu akan memiliki posisi pasar berbeda ketika sudah berusia tiga atau lima tahun.

2. Model Baru Bermunculan

Ini juga sering luput dari perhatian.

Ketika produsen meluncurkan generasi baru dengan desain, teknologi, atau fitur yang lebih menarik, model sebelumnya bisa mengalami tekanan harga di pasar mobil bekas.

Artinya, bukan cuma kondisi mobil kamu yang menentukan harga. Perubahan produk di pasar juga ikut berpengaruh.

3. Kondisi Kendaraan

Mobil yang rutin dirawat tentu lebih mudah dipertahankan nilainya dibandingkan unit yang memiliki banyak masalah.

Riwayat servis, kondisi mesin, transmisi, bodi, interior, dan kaki-kaki semuanya bisa menjadi bahan pertimbangan calon pembeli.

Toyota sendiri menyebut kondisi kendaraan, penggunaan yang wajar, serta rekam jejak servis sebagai faktor penting dalam menjaga resale value.

Baca juga: Sering Isi BBM Oktan Rendah di Mobil Turbo? Ini Efek yang Bisa Diam-Diam Mengganggu Mesin

Cara Menghitung Depresiasi Harga Mobil Bekas

cara hitung penyusutan mobil bekas

Nah, sekarang masuk ke bagian yang paling penting.

Ada dua pendekatan sederhana yang bisa kamu gunakan.

Metode 1: Menghitung Berdasarkan Selisih Harga

Cara pertama adalah yang paling mudah.

Misalnya:

Harga beli mobil: Rp400 juta
Estimasi harga jual setelah 3 tahun: Rp300 juta

Maka:

Rp400 juta – Rp300 juta = Rp100 juta

Jadi, selama tiga tahun kamu mengalami penyusutan nilai sebesar Rp100 juta.

Persentasenya:

Rp100 juta ÷ Rp400 juta × 100% = 25%

Jadi, mobil tersebut mengalami depresiasi total sekitar 25%.

Metode 2: Menghitung Depresiasi Secara Bertahap

Untuk membuat estimasi yang lebih realistis, kamu bisa menggunakan persentase penyusutan dari nilai kendaraan pada tahun sebelumnya, bukan selalu dari harga beli awal.

Sebagai ilustrasi, anggap kamu membeli mobil baru seharga Rp400 juta dan menggunakan asumsi depresiasi 15% pada tahun pertama.

Tahun Pertama

Rp400 juta × 15% = Rp60 juta

Nilai setelah satu tahun:

Rp400 juta – Rp60 juta = Rp340 juta

Kemudian, misalnya tahun kedua diasumsikan turun 10%.

Tahun Kedua

Rp340 juta × 10% = Rp34 juta

Nilai setelah dua tahun:

Rp340 juta – Rp34 juta = Rp306 juta

Jika tahun ketiga turun lagi 10%:

Rp306 juta × 10% = Rp30,6 juta

Nilai setelah tiga tahun:

Rp275,4 juta

Dalam contoh ini, mobil mengalami penurunan dari Rp400 juta menjadi sekitar Rp275,4 juta.

Namun sekali lagi, Otofriends, persentase tersebut hanya simulasi. Jangan menjadikannya sebagai angka pasti untuk menentukan harga mobil tertentu.

IBID Astra menyebut depresiasi mobil secara umum dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam menentukan harga, tetapi harga pasar tetap perlu diperhitungkan berdasarkan tahun, kondisi, dan karakteristik unit.

Baca juga: Mudah dan Terpercaya, Beli Mobil Bekas Di Bursa Mobil Otos.id 

Jangan Cuma Mengandalkan Persentase Depresiasi

Ini kesalahan yang cukup sering terjadi.

Misalnya kamu membaca bahwa mobil rata-rata turun 10% per tahun. Lalu kamu langsung menggunakan rumus tersebut untuk semua mobil.

Padahal, harga mobil bekas tidak bekerja sesederhana itu.

Mobil A dan Mobil B bisa memiliki tahun yang sama, tetapi harga bekasnya berbeda karena kondisi dan permintaan pasar berbeda.

Bahkan platform jual beli mobil seperti OLX menyediakan fitur pengecekan harga berdasarkan merek, model, transmisi, varian, tahun, dan lokasi.

Mereka juga menjelaskan bahwa kondisi mesin, kilometer, riwayat servis, pajak, bodi, dan interior dapat membuat harga mobil sejenis berbeda.

Jadi, rumus depresiasi sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan satu-satunya penentu harga.

Garansi Mobil Bekas Otospector
Garansi Mobil Bekas Otospector

Cara Mengetahui Estimasi Harga Jual Mobil Secara Lebih Akurat

Setelah menghitung depresiasi, lakukan pengecekan harga pasar.

Cari Mobil dengan Spesifikasi yang Sama

Jangan membandingkan mobil kamu dengan unit yang berbeda varian.

Cari kendaraan dengan:

  • Merek yang sama
  • Model yang sama
  • Tahun yang sama
  • Varian yang sama
  • Transmisi yang sama
  • Wilayah yang relatif sama
  • Kondisi yang mendekati

Semakin mirip unit pembanding, semakin berguna datanya.

Jangan Hanya Melihat Satu Iklan

Ambil beberapa contoh harga dari marketplace atau kanal jual beli mobil.

IBID menyarankan riset harga pasar dengan mempertimbangkan tahun produksi, kondisi, dan lokasi kendaraan.

Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan gambaran apakah harga mobilmu berada di atas, tengah, atau bawah pasar.

Faktor yang Bisa Membuat Depresiasi Lebih Kecil

Kabar baiknya, kamu tidak sepenuhnya pasrah terhadap depresiasi.

Nilai mobil memang akan turun, tetapi kamu bisa membantu menjaga agar penurunannya tidak terlalu dalam.

1. Rawat Mobil Secara Rutin

Jangan menunggu muncul masalah besar baru membawa mobil ke bengkel.

Servis berkala, penggantian oli, pemeriksaan rem, kaki-kaki, ban, dan komponen lain membantu mempertahankan kondisi kendaraan.

Rekam jejak servis juga bisa menjadi nilai tambah ketika mobil dijual.

Toyota menyebut kendaraan yang dirawat dengan baik dan memiliki rekam jejak servis yang jelas berpotensi memiliki resale value lebih baik dibanding unit sejenis yang perawatannya buruk.

2. Jaga Kondisi Eksterior dan Interior

Bodi penuh penyok, cat kusam, jok rusak, atau interior kotor tentu tidak membantu ketika mobil dijual.

Tidak harus membuat mobil seperti baru.

Yang penting, rawat secara konsisten.

3. Hindari Modifikasi Berlebihan

Modifikasi memang bisa membuat mobil lebih menarik bagi pemiliknya.

Tetapi belum tentu menarik bagi calon pembeli berikutnya.

Modifikasi ekstrem justru bisa mempersempit jumlah orang yang tertarik membeli.

Kalau target kamu adalah menjaga resale value, modifikasi yang terlalu personal sebaiknya dipertimbangkan kembali.

Jangan Lupakan Kilometer

Kilometer juga menjadi salah satu parameter yang diperhatikan calon pembeli.

Mobil yang sudah digunakan 100.000 kilometer tentu punya persepsi berbeda dibanding unit dengan jarak tempuh 40.000 kilometer, meskipun tahun produksinya sama.

Tetapi jangan sampai mengejar kilometer rendah dengan mengorbankan penggunaan normal.

Yang lebih penting adalah kilometer yang masuk akal dan didukung kondisi serta riwayat servis yang jelas.

Karena calon pembeli yang berpengalaman biasanya tidak hanya melihat angka odometer.

Kondisi Mobil Bekas Bisa Mengalahkan Faktor Tahun

Bayangkan ada dua mobil tahun 2022.

Mobil pertama memiliki kilometer 60.000 km, servis rutin, bodi terawat, interior bersih, dan tidak pernah mengalami kecelakaan besar.

Mobil kedua memiliki kilometer 40.000 km, tetapi riwayat servis tidak jelas, kaki-kaki bermasalah, dan pernah mengalami kerusakan cukup berat.

Mana yang lebih menarik?

Belum tentu mobil kedua.

Inilah alasan mengapa menentukan harga jual mobil bekas tidak cukup hanya dengan melihat tahun dan kilometer.

Kapan Waktu yang Tepat Menjual Mobil?

Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua kendaraan.

Namun, kamu bisa mulai menghitung sejak awal berapa lama mobil akan digunakan.

Misalnya kamu memang punya rencana mengganti mobil setiap tiga tahun.

Maka, sejak membeli mobil pertama, kamu sudah bisa memperkirakan:

Harga beli – estimasi harga jual = estimasi depresiasi

Kemudian bandingkan dengan biaya kepemilikan lainnya seperti servis, pajak, asuransi, bahan bakar, dan biaya perbaikan.

Dengan cara tersebut, kamu tidak hanya melihat mobil dari harga belinya.

Kamu juga memahami berapa biaya sebenarnya yang kamu keluarkan selama memiliki kendaraan.

Jangan Lupa Biaya Saat Menjual Mobil

Otofriends, ada satu hal lagi yang sering terlupakan.

Harga jual bukan berarti seluruh uang tersebut masuk ke kantong.

Saat menjual mobil, bisa saja ada biaya administrasi, biaya detailing, perbaikan kecil, iklan, atau biaya lain tergantung metode penjualannya.

Kalau mobil ingin dijual sendiri, kamu mungkin bisa mendapatkan harga lebih tinggi, tetapi harus meluangkan waktu untuk mencari pembeli, menjawab pertanyaan, melakukan negosiasi, dan mengurus transaksi.

Jadi, perhitungkan juga biaya dan waktu untuk menjual.

Intinya, Beli Mobil Jangan Cuma Melihat Harga Baru

Otofriends, kalau kamu ingin membeli mobil yang nantinya mudah dijual kembali, jangan hanya melihat harga ketika keluar dari showroom.

Lihat juga resale value.

Cari tahu bagaimana harga bekas model tersebut selama beberapa tahun terakhir. Bandingkan dengan kompetitor sekelas dan perhatikan seberapa besar permintaan pasar terhadap unit bekasnya.

Mobil yang punya pasar bekas kuat biasanya memberikan lebih banyak pilihan ketika kamu ingin menjual kembali.

Namun, tetap ingat bahwa kondisi unit punya peranan besar.

Mobil dengan resale value bagus tetapi tidak dirawat tetap bisa dihargai lebih rendah dibandingkan unit sejenis yang kondisinya prima.

Cara menghitung depresiasi harga mobil bekas sebenarnya cukup sederhana. Kamu bisa memulai dengan menghitung selisih antara harga beli dan estimasi harga jual kembali, kemudian mengubahnya menjadi persentase.

Tetapi jangan berhenti di rumus.

Gunakan perhitungan tersebut bersama riset harga pasar aktual, kondisi kendaraan, kilometer, riwayat servis, popularitas model, dan kondisi pasar.

Karena pada akhirnya, mobil bukan sekadar angka di tabel.

Harga jual kembali ditentukan oleh seberapa menarik mobil tersebut di mata calon pembeli.

Jadi kalau sejak awal kamu sudah tahu suatu hari mobil tersebut akan dijual lagi, perlakukan kendaraan sebagai aset yang nilainya perlu dijaga. Rawat mesin, simpan bukti servis, jaga bodi dan interior, gunakan mobil secara wajar, serta hindari kerusakan yang sebenarnya bisa dicegah.

Dengan begitu, ketika waktunya tiba untuk ganti mobil, kamu tidak sekadar menjual kendaraan.

Kamu sudah mempersiapkan nilai jual kembali yang lebih sehat sejak hari pertama memilikinya.

Bagikan

Baca Artikel Lainnya

Baca Artikel Lainnya

Bukan Cuma Lithium! Kenali Bahan Dasar Baterai Mobil Listrik yang Menentukan Performa dan Umur Pakainya

Juli 28, 2026
Mobil listrik semakin populer di Indonesia. Selain menawarkan biaya operasional yang lebih hemat, kendaraan listrik juga dikenal lebih ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi gas buang saat digunakan. Namun, di balik teknologi canggih tersebut, ada satu komponen yang menjadi “jantung” utama kendaraan listrik, yaitu baterai. Masih banyak orang yang mengira baterai mobil listrik hanya terbuat
Baca Lebih Lanjut

Apa Itu Transmisi DCT? Ini Cara Kerja, Kelebihan, Kekurangan, dan Bedanya dengan CVT

Juli 28, 2026
Mobil modern kini hadir dengan berbagai pilihan jenis transmisi. Kalau dulu pilihannya hanya manual atau otomatis konvensional, sekarang Otofriends mungkin mulai sering mendengar istilah CVT, AT, e-CVT, hingga DCT. Nah, salah satu yang cukup banyak digunakan pada mobil-mobil terbaru adalah DCT (Dual Clutch Transmission). Transmisi DCT mulai banyak diadopsi oleh berbagai pabrikan dunia, termasuk merek
Baca Lebih Lanjut

Setir Mobil Goyang Saat Jalan? Ini 10 Penyebab yang Sering Diabaikan Pengemudi

Juli 27, 2026
Pernah merasakan setir mobil tiba-tiba bergetar atau bergoyang saat sedang melaju? Kalau iya, jangan langsung menganggapnya sebagai hal yang sepele ya, Otofriends. Getaran pada setir bisa menjadi tanda adanya masalah pada salah satu komponen kendaraan.  Jika dibiarkan terlalu lama, bukan hanya membuat berkendara menjadi tidak nyaman, tetapi juga dapat meningkatkan risiko kecelakaan, terutama saat melaju
Baca Lebih Lanjut