
Mengecek kerusakan engine mounting bisa kita lakukan sendiri, asalkan tahu langkah-langkah yang harus dilakukan dan komponen-komponen mana saja yang harus dicek.
Kerusakan pada engine mounting perlu diantisipasi sejak dini, karena peran komponen ini sangat vital dalam menahan posisi mesin dan meredam getaran.
Kalau engine mounting dibiarkan rusak atau aus, efeknya bisa merusak komponen-komponen lain, bahkan membahayakan keselamatan berkendara.
Cuma gara-gara engine mounting rusak, beberapa komponen seperti selang radiator, selang bahan bakar, kabel kelistrikan, kipas radiator, manifold knalpot, dll; bisa ikutan rusak. Jadi bisa dibayangkan, berapa kerugiannya.
Yuk, kita pelan-pelan kita pahami cara mengecek kerusakan engine mounting dari fakta-fakta ini.

Sumber: Loyal Parts
Engine mounting yang rusak atau mulai bermasalh umumnya bisa dirasakan dari getaran, bunyi, sampai perubahan respons saat mengemudi.
Ada getaran berlebih yang dirasakan sampai ke dalam kabin. Getaran ini terasa di setir, dashboard, tuas, transmisi, sampai ke tempat duduk; saat mesin sedang stasioner. Getaran semakin hebat pada saat kompresor AC menyala.
Bunyi muncul saat kendaraan berakselerasi atau mengerem. Bunyinya seperti “blek-blek”, dari balik kap mesin saat digas atau rem mendadak. Benturan juga terasa saat mobil melewati jalan yang tidak rata.
Entakan terjadi saat perpindahan transmisi. Di mobil matic, terasanya saat perpindahan tuas dari P ke R, N ke D, dan sebaliknya. Sedangkan di mobil manual, entakan terjadi saat kopling dilepas setelah pindah gigi.
Secara langsung bisa terlihat mesin miring ke salah satu sisi, bergeser dari posisi semestinya. Ketika mobil dihentak mendadak, mesin keliatan mengayun.
Bentuk kerusakan bisa terlihat dari karet yang retak, getas, atau malah lepas. Khusus untuk engine mounting tipe hidrolis, ada rembesan oli di sekitar dudukan mounting.

Pengecekan yang paling mudah adalah uji getaran kabin. Dalam kondisi mesin stasioner, rasakan getaran yang merambat ke dalam kabin. Kalau AC dinyalakan dan getaran bertambah hebat, artinya memang positif terjadi kerusakan.
Tes ini butuh seseorang yang mengamati pergerakan mesin. Caranya dengan memasukkan gigi dan injak gas, tetapi mobil ditahan dengan rem tangan. Jika mesin terlihat bergerak miring berlebihan saat gas dientak, maka mounting ada masalah.
Cek kondisi karet pada tiap bracket, apakah ada pecah-pecah. Khusus untuk mounting tipe hidrolis, amati apakah ada rembesan oli di sekitar rumah mounting.
Dongkrak kendaraan dan tempatkan papan kayu di bawah bak oli mesin. Perhatikan, apakah jarak mounting bergeser jauh secara tidak wajar atau karet sudah terlepas dari pelat besinya.

Sumber: Gridoto
Usia pakai engine mounting sebenarnya sangat beragam, tergantung pada pemakaian. Namun pada umumnya ada di kisaran 50.000 km sampai 100.000 km atau sekitar 3 tahun hingga 5 tahun.
Namun harus diingat, daya tahan komponen ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti jenis bahannya, kondisi jalan yang dilalui, serta gaya mengemudi.
Engine mounting tipe karet biasa, pada umumnya lebih awet dibanding tipe hidrolik.
Ada beberapa faktor yang mempercepat kerusakan engine mounting:

Karena termasuk komponen yang sering diganti, di pasaran juga beredar engine mounting versi KW alias palsu atau imitasi.
Agar Otofriends tidak terjebak membeli barang tiruan, sebaiknya perhatikan dengan cermat kondisi engine mounting yang hendak dibeli.
Beberapa aspek yang harus diperhatikan:

Sumber: Cintamobil
Kalau Otofriends ingin memastikan mobil bekas yang akan dibeli ada kerusakan pada engine knocking, segera kontak jasa inspeksi mobil bekas Otospector.
Dengan pemeriksaan yang mendalam dan dilakukan tenaga profesional, Otofriends akan mendapat gambaran menyeluruh tentang kondisi komponen dari mobil yang akan dibeli.
Mobil bekas akan semakin oke, kalau ada garansi mobil bekas dari Otospector. Segala kerusakan mesin dan transmisi yang terjadi selama periode garansi, akan dijamin perbaikannya.
Bagikan
