
Salah satu komponen yang hukumnya sangat haram kalau sampai bermasalah di saat mesin kendaraan sedang bekerja adalah sistem pendingin.
Sistem ini begitu vital, karena fungsinya mengendalikan dan menjaga suhu kerja mesin agar selalu ada dalam suhu yang optimal.
Kalau amit-amit, sistem pendingin sampai ngambek, bisa celaka 12! Mesin bakal mengalami suhu panas berlebih (overheat), mesin knocking, tenaga drop, bahkan yang paling parah bisa bikin mesin jebol.
Padahal yang namanya cairan coolant di dalam radiator, bisa saja berkurang karena berbagai sebab.
Nah, jadi penasaran kan, apakah kalau cairan coolant berkurang, kita bisa menggantinya dengan air biasa? Yuk, kita ikuti fakta-faktanya:

Sumber: SuzukiMobil
Pada umumnya air radiator akan berkurang karena ada kebocoran.
Air akan merembes keluar dari jalur sirkulasi, misalnya karena retaknya selang radiator, sirip radiator yang sudah lemah, atau water pump yang rembes.
Tutup radiator juga bisa jadi biang kebocoran, kalau karet pada tutup sudah getas, lalu pecah. Air radiator akan cepat terbuang ke tabung cadangan sampai meluber ke luar.
Kebocoran jalurnya juga bisa masuk ke ruang bakar yang disebabkan paking kepala silinder rusak. Air radiator akan tersedot ke ruang bakar dan ikut terbakar.
Air juga bisa menguap lewat tabung cadangan. Terjadi saat mesin bekerja keras dan cuaca panas, air akan mendidih dan sebagian kecil air akan menguap lewat lubang pembuangan udara di tangki.

Cara paling sederhana, dengan melihat apakah ada kebocoran di kolong kendaraan. Cirinya, ada air berwarna (biasanya hijau, merah, atau biru) di lantai.
Pengecekan juga bisa dari dipstick oli mesin. Kalau warna oli jadi kayak kopi susu, itu artinya air bocor ke dalam mesin.
Kita juga bisa mengecek sekitar radiator. Perhatikan, adakah bercak putih atau noda kering berwarna di sekitar sambungan selang dan kisi-kisi radiator.
Air radiator mempunyai tiga unsur:
Air yang sudah dimurnikan dengan membuang kandungan mineral, kalsium, dan zat besi. Gunanya agar tidak meninggalkan kerak di jalur pipa radiator dan blok mesin.
Bahan yang umum digunakan adalah Ethylene Glycol (EG) dan Propylene Glycol (PG). Bedanya EG sifatnya beracun, sedangkan PG lebih ramah lingkungan.
Meski persentasenya kecil, tapi sangat krusial melindungi bagian dalam mesin yang terbuat dari logam, besi cor, dan alumunium. Saat ini teknologinya menggunakan Organic Acid Technology yang berbahan asam organik, serta Hybrid Organic Acid Technology yang merupakan gabungan antara asam organik dan sedikit silikat.

Penggantian air radiator dengan air biasa, tentu saja bisa. Dengan catatan kondisinya benar-benar darurat yaitu untuk mencegah mesin rusak.
Tetapi air biasa ini tidak boleh terlalu lama di radiator dan harus segera dikuras. Karena efeknya dalam jangka panjang bisa menyebabkan karat. Titik didihnya juga masih di bawah coolant, sehingga cepat menguap.
Kalau ingin menambahkan air yang bukan coolant, maka sebaiknya pilih :
Air murni yang sudah dibuang mineralnya jadi alternatif terbaik, karena tidak akan menimbulkan kerak.
Air hasil kondensasi udara ini bebas dari kandungan mineral tanah.
Air minum kemasan yang diproses dengan sistem Reverse Osmosis (RO) atau distilasi, di mana kandungan mineral sangat rendah.
Sifatnya darurat dan harus dikuras begitu sampai di rumah atau bengkel.

Sumber: Automotivexist blogspot,com
Pewarna coolant berguna sebagai penanda kalau terjadi kebocoran, sehingga bisa segera dikenali saat menggenang di kolong mobil dan tidak tertukar dengan air dari AC.
Pewarna pada coolant tidak berpengaruh pada performa pendinginan.
Untuk memastikan mobil bekas yang kamu pilih ada dalam kondisi baik, percayakan saja inspeksinya ke jasa inspeksi mobil bekas Otospector.
Mobil yang sudah dibeli bakal terjamin kualitasnya berkat garansi mobil bekas Otospector. Lebih aman di jalan, hati lebih tenang.
Bagikan