
Otofriends, membeli mobil bekas bukan hanya soal mencari harga termurah atau mendapatkan fitur sebanyak mungkin. Ada satu hal yang sering baru dipikirkan setelah mobil dibeli, yaitu: berapa harga mobil ini ketika nanti dijual kembali?
Pertanyaan tersebut semakin menarik ketika pilihan mobil saat ini semakin beragam. Kalau dulu konsumen hanya membandingkan mobil bensin dan diesel, sekarang mobil hybrid mulai menjadi alternatif yang semakin populer.
Namun, muncul pertanyaan baru. Jika membeli mobil hybrid saat ini dan menjualnya beberapa tahun kemudian, apakah harga jualnya masih stabil? Atau justru mobil bensin konvensional masih lebih aman karena pasar bekasnya sudah terbentuk selama puluhan tahun?
Perdebatan mengenai mobil bekas hybrid vs bensin konvensional memang tidak bisa dijawab hanya dengan melihat jenis mesinnya. Depresiasi dipengaruhi banyak faktor, mulai dari merek, popularitas model, harga mobil baru, teknologi, biaya perawatan, hingga kepercayaan pasar terhadap kendaraan tersebut.
Di Indonesia, Toyota Astra Motor pernah menyebut rata-rata mobil mengalami depresiasi sekitar 20% pada tahun pertama dan kemudian sekitar 10% setiap tahun, meskipun angka sebenarnya dapat berbeda tergantung kondisi, permintaan pasar, serta model kendaraan.
Nah, supaya tidak salah memilih, yuk kita bahas lebih dalam.

Sederhananya, depresiasi adalah penurunan nilai suatu aset dari harga ketika dibeli hingga harga ketika dijual kembali.
Contohnya, sebuah mobil baru dibeli seharga Rp400 juta. Tiga tahun kemudian, harga pasarnya tinggal Rp300 juta.
Artinya, mobil tersebut mengalami penurunan nilai sebesar Rp100 juta atau sekitar 25%.
Namun, Otofriends perlu ingat bahwa depresiasi tidak selalu berjalan dengan persentase yang sama setiap tahun.
Biasanya, penurunan harga paling besar terjadi ketika mobil baru berubah status menjadi mobil bekas. Setelah itu, kecepatan depresiasi bisa berbeda-beda.
Ada mobil yang setelah lima tahun masih memiliki harga tinggi karena permintaannya kuat. Sebaliknya, ada juga mobil yang memiliki fitur lengkap dan harga baru tinggi, tetapi harga bekasnya turun cukup cepat karena permintaan pasar terbatas.
Jadi, ketika membahas mobil hybrid dan bensin konvensional, pertanyaannya bukan sekadar teknologi mana yang lebih baru.
Pertanyaan sebenarnya adalah:
Teknologi mana yang paling dipercaya oleh pasar mobil bekas?


Tidak bisa dipungkiri, mobil bensin konvensional masih memiliki basis pasar yang sangat besar di Indonesia.
Mulai dari city car, hatchback, MPV, hingga SUV, mayoritas konsumen sudah sangat familiar dengan mesin bensin.
Hal tersebut memberikan beberapa keuntungan terhadap nilai jual kembali.

Salah satu alasan mobil bensin masih diminati adalah ekosistemnya sudah terbentuk.
Bengkel yang memahami mesin bensin relatif mudah ditemukan. Suku cadang juga tersedia mulai dari komponen orisinal hingga aftermarket.
Bagi pembeli mobil bekas, kemudahan perawatan menjadi pertimbangan penting.
Mobil yang dianggap mudah dirawat biasanya memiliki calon pembeli lebih banyak dibanding mobil yang membutuhkan penanganan khusus.

Pembeli mobil bekas umumnya mempertimbangkan risiko biaya perbaikan.
Pada mobil bensin konvensional, mereka sudah memiliki gambaran mengenai komponen yang mungkin perlu diperbaiki.
Misalnya:
Risikonya tetap ada, tetapi teknologi tersebut sudah sangat familiar.
Itulah sebabnya beberapa model konvensional dengan populasi tinggi masih memiliki nilai jual kembali yang kuat. Data pasar yang dipresentasikan GAIKINDO pada 2025 juga menunjukkan bahwa tingkat depresiasi berbeda antarsegmen dan model, dengan beberapa MPV mampu mempertahankan nilai jual lebih baik pada usia di atas lima tahun.

Dulu, kekhawatiran terbesar masyarakat terhadap mobil hybrid adalah baterai.
Pertanyaannya hampir selalu sama:
“Kalau baterainya rusak, mahal nggak?”
Kekhawatiran ini wajar karena mobil hybrid memiliki sistem yang lebih kompleks dibanding mobil bensin biasa.
Selain mesin pembakaran internal, terdapat motor listrik, baterai tegangan tinggi, sistem manajemen energi, dan komponen elektrifikasi lainnya.
Namun, pasar hybrid Indonesia sekarang mulai berubah.
Semakin banyak model hybrid yang beredar, konsumen juga semakin mengenal teknologi tersebut.

Salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi harga mobil hybrid bekas adalah sisa masa garansi baterai.
Beberapa produsen menawarkan perlindungan baterai tegangan tinggi dalam jangka panjang. Honda Indonesia, misalnya, mencantumkan garansi baterai tegangan tinggi untuk model hybrid dan listrik hingga delapan tahun atau 160.000 km, tergantung mana yang tercapai lebih dahulu.
Toyota juga mencantumkan perlindungan baterai hybrid hingga delapan tahun atau 160.000 km sesuai ketentuan yang berlaku.
Bagi pembeli mobil bekas, sisa masa perlindungan seperti ini tentu bisa menjadi nilai tambah.
Mobil hybrid berusia tiga tahun dengan sisa perlindungan baterai masih mungkin terasa lebih menarik dibanding unit yang seluruh masa perlindungannya telah berakhir.

Ada anggapan bahwa semua mobil hybrid akan mengalami penurunan harga lebih cepat karena teknologinya berkembang.
Kenyataannya, kondisi tersebut tidak selalu berlaku.
Toyota pernah mengutip data OLX yang menunjukkan bahwa Kijang Innova Zenix HEV memiliki resale value sekitar 88% pada tahun pertama, sementara Yaris Cross HEV berada di kisaran 83%. Angka tersebut menunjukkan bahwa pada model tertentu, pasar cukup menerima teknologi hybrid.
Namun, data tersebut tidak bisa digunakan untuk menyimpulkan bahwa semua mobil hybrid pasti memiliki depresiasi rendah.
Ini penting.
Nilai jual kembali sebuah mobil hybrid sangat bergantung pada:
Jadi, mobil hybrid dari merek dengan ekosistem kuat bisa memiliki karakter depresiasi yang berbeda dibanding model hybrid yang masih memiliki populasi terbatas.


Jawabannya cukup menarik.
Tidak ada pemenang mutlak.
Kalau berbicara mengenai pasar Indonesia secara umum, mobil bensin konvensional dari model yang populer masih menjadi pilihan yang relatif aman dari sisi likuiditas.
Artinya, calon pembeli lebih banyak dan proses menjual kembali biasanya lebih mudah.
Namun, mobil hybrid dari model yang populer dan memiliki reputasi baik mulai menunjukkan bahwa teknologi elektrifikasi tidak otomatis membuat harga jual bekas jatuh.
GAIKINDO juga mencatat adanya pandangan bahwa harga jual kembali hybrid cenderung lebih stabil dibanding kendaraan listrik murni karena hybrid tetap menggunakan mesin bensin dan tidak memiliki ketergantungan yang sama terhadap infrastruktur pengisian daya.
Dengan kata lain, hybrid saat ini berada di posisi tengah.
Konsumen mendapatkan potensi efisiensi bahan bakar dan teknologi elektrifikasi, tetapi masih memiliki mesin bensin sebagai sumber tenaga.
Meski prospeknya cukup baik, mobil hybrid tetap memiliki beberapa risiko depresiasi.
Ini salah satu faktor yang paling sering memengaruhi harga mobil bekas.
Kalau harga mobil baru turun karena promo besar atau perubahan strategi harga, mobil bekas secara otomatis harus menyesuaikan.
Pemilik mobil bekas tentu akan kesulitan menjual dengan harga tinggi jika unit baru sedang mendapatkan diskon besar.
Mobil hybrid baru mungkin menawarkan baterai lebih efisien, konsumsi BBM lebih baik, atau fitur keselamatan lebih lengkap.
Ketika generasi baru hadir dengan peningkatan signifikan, generasi sebelumnya bisa kehilangan sebagian daya tarik.
Ini masih menjadi salah satu faktor psikologis di pasar mobil bekas.
Semakin tua mobil hybrid, calon pembeli biasanya akan semakin memperhatikan kondisi baterai dan biaya perbaikan.
Karena itu, riwayat perawatan yang lengkap menjadi sangat penting.

Sebaliknya, jangan menganggap semua mobil bensin pasti memiliki harga bekas stabil.
Faktanya, banyak mobil bensin mengalami depresiasi cukup tinggi.
Penyebabnya antara lain:
Sebagai contoh, beberapa mobil bekas populer seperti Toyota Avanza dan Honda Brio dikenal memiliki permintaan pasar yang kuat karena faktor popularitas dan biaya kepemilikan. Namun, stabilitas harga tetap berbeda berdasarkan tahun produksi, kondisi unit, serta wilayah penjualan.
Artinya, jenis mesin bukan satu-satunya penentu depresiasi.
Otofriends, kalau sejak awal kamu sudah memikirkan harga jual kembali, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Semakin banyak populasi kendaraan, biasanya semakin besar pula pasar pembelinya.
Tentu ini bukan aturan mutlak, tetapi mobil dengan komunitas dan pengguna yang besar cenderung lebih mudah dikenal calon pembeli.
Mobil dengan buku servis atau riwayat perawatan yang lengkap memiliki nilai tambah.
Hal ini semakin penting pada mobil hybrid karena calon pembeli ingin mengetahui bagaimana kendaraan dirawat sebelumnya.

Untuk mobil hybrid, jangan hanya memeriksa mesin dan eksterior.
Pastikan sistem elektrifikasi juga diperiksa secara menyeluruh.
Sisa masa garansi baterai juga bisa menjadi informasi penting ketika kendaraan akan dijual kembali.
Mobil bekas dengan indikasi tabrakan besar atau pernah terendam banjir bisa mengalami penurunan nilai yang signifikan.
Kondisi tersebut dapat membuat calon pembeli ragu, meskipun mobil terlihat baik setelah diperbaiki.
Karena itu, pemeriksaan kondisi kendaraan sebelum membeli tetap menjadi langkah penting.
Hybrid Mulai Menantang Dominasi Bensin
Otofriends, kalau pertanyaannya mobil bekas hybrid vs bensin konvensional, mana yang depresiasi harganya lebih stabil?, jawabannya bergantung pada model yang dibandingkan.
Mobil bensin konvensional masih unggul dari sisi familiaritas, jumlah bengkel, ketersediaan suku cadang, dan basis pasar yang besar. Untuk model-model populer, faktor tersebut membuat harga jual kembali relatif lebih mudah dipertahankan.
Namun, mobil hybrid tidak bisa lagi dianggap sebagai teknologi yang otomatis memiliki nilai jual kembali buruk.
Model hybrid dari merek dengan reputasi kuat, populasi besar, dukungan layanan purnajual yang baik, dan garansi baterai yang panjang mulai menunjukkan potensi nilai jual yang cukup kompetitif.
Jadi, jangan memilih mobil hanya berdasarkan label hybrid atau bensin.
Perhatikan modelnya.
Lihat permintaan pasarnya.
Periksa riwayat perawatannya.
Dan yang paling penting, pastikan kondisi mobil benar-benar sehat.
Sebab pada akhirnya, mobil dengan teknologi apa pun bisa mengalami depresiasi lebih besar jika kondisinya buruk.
Sebaliknya, mobil yang dirawat dengan baik, memiliki riwayat servis jelas, serta berasal dari model yang dipercaya pasar akan memiliki peluang lebih besar untuk tetap dilirik ketika saatnya dijual kembali.
Kalau kamu membeli mobil dengan mempertimbangkan penggunaan sekaligus nilai jual di masa depan, jangan hanya bertanya, “Mobil ini irit atau tidak?”
Tapi tanyakan juga:
“Apakah lima tahun lagi masih banyak orang yang ingin membeli mobil ini?”
Pertanyaan sederhana tersebut justru bisa menjadi salah satu kunci untuk memilih mobil dengan depresiasi yang lebih sehat.
Bagikan
