
Bagi kendaraan yang rutin dipakai sehari-hari, angka 100.000 km boleh dibilang sebagai angka “keramat”.
Jelas saja, karena jika angka 100.000 km di odometer atau kelipatannya, artinya mobil sudah butuh perawatan besar.
Sebagai pemilik, Otofriends harus siap-siap dengan dana yang cukup lumayan tentunya.
Pada beberapa merek mobil, pada angka ini, garansi dari pabrik yang diberikan sejak pembelian baru, biasanya sudah berakhir. Atau sering juga disetarakan dengan 3 tahun pemakaian.
Nah, kira-kira apa saja perawatan yang akan dilakukan pada jarak tempuh 100.000 km dan kelipatannya? Mari kita lihat rinciannya:

Sumber: Pngtree
Penggantian oli mesin tentu dilakukan, karena masuk ke kelipatan 5.000 km. Tetapi tidak hanya oli mesin, penggantian beberapa fluida lain juga penting.
Pertama, oli transmisi baik manual maupun matik. Pergantian ini menjamin perpindahan gigi tetap halus dan menjaga kondisi girboks.
Ganti juga radiator coolant. Kuras total agar endapan karat bisa bersih dan suhu mesin stabil.
Untuk mobil-mobil berpenggerak roda belakang (RWD) lakukan pula penggantian oli gardan.
Terakhir untuk menjaga tekanan hidrolik rem agar tetap pakem dan mencegah rem blong, ganti minyak rem dan minyak kopling.

Pada mobil yang memakai busi Iridium atau Platinum, jarak tempuh 100.000 km merupakan saat pergantian busi, karena sampai di batas pemakaian.
Sementara bagi pemakai busi Nikel, yang biasanya diganti antara 20.000 km – 40.000 km, bisa disesuaikan dengan kelipatannya.
Ritual terpenting pada tahap ini adalah pembersihan karbon pada ruang bakar dan throttle body. Tarikan dijamin akan kembali responsif.
Agar pembakaran semakin oke, lakukan penggantian filter bahan bakar yang kemungkinan sudah kotor karena penyaringan bahan bakar.
Lakukan pengecekan Drive Belt/Serpentine Belt atau sabuk karet luar yang menggerakkan alternator, AC, dan power steering. Kalau sudah retak-retak, langsung ganti.
Pada mobil yang masih menggunakan Timing Belt yang periode pergantiannya 80.000 km – 100.000 km, juga dilakukan penggantian.
Bagian yang tak kalah penting adalah perawatan selang-selang radiator. Jika selang mulai mengeras atau melar, sebaiknya ganti saja. Risikonya, air radiator bisa bocor dan mesin overheat.

Pada odometer 100.000 km, saatnya pengecekan ulang komponen suspensi. Ada ball joint, link stabilizer, tie-rod, dan karet-karet bushing.
Komponen kaki-kaki bisa rusak atau aus karena usia dan pemakaian. Jangan tunda perawatannya.
Periksa shockbreaker, apakah ada rembesan oli pada tabung. Lakukan perbaikan atau ganti kalau perlu.
Terakhir yang paling krusial adalah pengecekan rem. Cek ketebalan kampas. Cek juga permukaan cakram (rotor) apakah masih rata atau sudah bergelombang.

Sumber: Garda Oto
Pengecekan riwayat perawatan di bengkel resmi, biasa dilakukan calon pembeli mobil bekas untuk mengetahui riwayat di masa lalu.
Karena bengkel resmi biasanya masih memiliki arsip tentang riwayat servis dan pergantian spare part.
Akan tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Catatan biasanya dilakukan dengan menggunakan nomor polisi lama. Jika sudah balik nama, akan sulit melacaknya.
Perbaikan yang dilakukan di luar bengkel resmi juga tidak akan tercatat, sehingga kita tidak bisa mengetahui jejak di wilayah ini.
Kesulitan lainnya, biasanya para pemilik mobil rajin servis di bengkel resmi pada masa servis gratis atau sekitar 3 tahun. Setelah itu, akan memilih perawatan di tempat lain.
Untuk memastikan kondisi mobil bekas yang akan dibeli, pakai saja jasa inspeksi mobil bekas Otospector. Sebagai calon pembeli, kita akan tahu kondisi kendaraan secara menyeluruh dan memperkirakan harga yang terbaik.
Pastikan juga melengkapi mobil dengan garansi mobil bekas Otospector. Mobil akan terasa nyaman dan aman saat digunakan.
Bagikan